Medan | Kebakaran hutan dan lahan (karhutla) masih terjadi di empat kawasan gunung dan pegunungan di Jawa Timur hingga Selasa, 20 Oktober. Informasi yang dihimpun Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Jawa Timur mencatat titik kebakaran di Gunung Bromo, Kabupaten Probolinggo; Gunung Arjuno-Welirang, Kabupaten Pasuruan; Gunung Sigiran, Kabupaten Mojokerto; serta Tamankursi di kaki Gunung Argopuro, Kabupaten Situbondo. Keempat lokasi tersebut berada di kawasan dengan kondisi alam dan wilayah administratif yang berbeda.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Jawa Timur, Satriyo Nurseno, menyampaikan bahwa luas area yang terbakar di seluruh kawasan itu masih dalam pendataan. Dengan demikian, angka luasan kebakaran belum dapat dipastikan berdasarkan informasi yang tersedia hingga tanggal tersebut. Pendataan diperlukan untuk mencatat sebaran dampak di masing-masing lokasi secara lebih jelas, sehingga laporan mengenai kondisi karhutla dapat disusun berdasarkan hasil pemantauan di lapangan.
Catatan BPBD tersebut menunjukkan bahwa penanganan karhutla masih menjadi perhatian di beberapa kawasan gunung di Jawa Timur secara bersamaan. Penyebutan lokasi memberikan gambaran mengenai wilayah yang perlu dipantau, tetapi belum menjelaskan secara rinci luas lahan terdampak maupun perkembangan api di setiap titik. Informasi mengenai luasan masih menunggu proses pendataan, sebagaimana diterangkan Satriyo. Karena itu, perkembangan kondisi di Bromo, Arjuno-Welirang, Sigiran, dan Tamankursi perlu dipahami sesuai keterangan resmi yang telah disampaikan, tanpa menyimpulkan besaran dampak sebelum data tersedia. Pembaruan berikutnya dapat memberikan rincian lebih lengkap mengenai cakupan area yang terbakar di setiap kawasan. Untuk saat ini, informasi utama yang tercatat adalah bahwa karhutla masih berlangsung di empat lokasi tersebut hingga 20 Oktober, sementara pengukuran luasan kebakaran masih dilakukan. Pemantauan dan pencatatan yang berkelanjutan menjadi dasar untuk mengetahui kondisi tiap kawasan secara akurat serta menyampaikan perkembangan penanganan kepada masyarakat. BPBD Jawa Timur menjadi sumber keterangan mengenai lokasi yang teridentifikasi dan status pendataan luasan dalam laporan tersebut.
Salah satu kendala utama dalam penanganan kebakaran hutan dan lahan di kawasan gunung adalah akses menuju titik api. Sebagian lokasi berada di medan terjal dan ketinggian, sehingga tidak dapat dijangkau dengan mudah oleh petugas yang bergerak melalui jalur darat. Kondisi geografis tersebut membatasi ruang gerak tim pemadam dan membuat penanganan langsung dari darat tidak selalu dapat dilakukan di setiap titik. Karena itu, keberadaan titik api di kawasan yang sulit diakses menjadi tantangan tersendiri bagi petugas yang bertugas memadamkan kebakaran.
Wakil Gubernur Jawa Timur Emil Elestianto Dardak memberikan contoh kondisi tersebut saat membahas kebakaran di kawasan Gunung Arjuno-Welirang, yang berada dalam Taman Hutan Raya (Tahura) Soerjo. Menurut keterangan Emil, terdapat titik kebakaran di lokasi yang tidak dapat dijangkau oleh tim pemadam darat. Medan di kawasan itu terjal, sementara lokasinya berada pada ketinggian. Gambaran ini menunjukkan bahwa hambatan akses bukan sekadar persoalan jarak, melainkan juga berkaitan dengan karakter medan yang harus dilalui untuk mencapai titik api.
Ketika petugas darat tidak dapat mencapai lokasi, upaya pemadaman menghadapi keterbatasan dalam menjangkau sumber kebakaran secara langsung. Tim perlu mempertimbangkan akses yang tersedia dan kondisi medan di sekitar titik api, tanpa mengabaikan keselamatan petugas. Keterangan Emil menegaskan bahwa kawasan Arjuno-Welirang di Tahura Soerjo merupakan salah satu contoh lokasi yang sulit dijangkau dari darat. Hal ini menjelaskan mengapa pemadaman di kawasan pegunungan dapat berlangsung dengan tantangan lebih besar dibandingkan lokasi yang aksesnya terbuka. Medan terjal dan posisi titik api di ketinggian menjadi kendala utama yang perlu diperhitungkan dalam penanganan kebakaran, terutama ketika petugas harus menentukan cara menjangkau lokasi tersebut. Penjelasan itu berfokus pada hambatan akses, tanpa menyimpulkan penyebab kebakaran ataupun keadaan lain yang tidak disampaikan.Pemadaman melalui water bombing dinilai diperlukan untuk membantu mengatasi kebakaran hutan dan lahan di kawasan gunung yang titik apinya sulit dijangkau dari darat. Dalam operasi ini, helikopter membawa dan menjatuhkan air dari udara ke area yang terbakar. Cara tersebut dapat menjangkau lokasi dengan medan terjal, akses terbatas, atau jarak yang menyulitkan petugas serta kendaraan pemadam. Ribuan liter air dapat dijatuhkan dalam satu kali operasi, sehingga upaya pemadaman dapat diarahkan langsung ke titik api yang menjadi perhatian. Meski demikian, penggunaan bantuan udara tetap perlu disesuaikan dengan kondisi lapangan dan ketersediaan sarana.
Untuk saat ini, helikopter milik Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) masih difokuskan untuk menangani karhutla di Kalimantan dan Sumatera. Kondisi tersebut membuat dukungan pemadaman udara belum tersedia untuk penanganan kebakaran di Jawa Timur. Padahal, karakteristik kawasan pegunungan dapat menyulitkan upaya pemadaman konvensional, terutama ketika lokasi kebakaran berada jauh dari jalur yang dapat dilalui petugas. Karena itu, water bombing dipandang sebagai salah satu opsi yang dapat membantu memperluas jangkauan pemadaman, bukan sebagai pengganti seluruh penanganan darat. Petugas tetap dibutuhkan untuk memantau keadaan dan menindaklanjuti titik api di lapangan.
Emil menyatakan bahwa pemerintah provinsi terus berkoordinasi dengan BNPB agar Jawa Timur dapat memperoleh bantuan pemadaman dari udara. Koordinasi diperlukan untuk menyampaikan kebutuhan daerah sekaligus membahas dukungan yang memungkinkan di tengah penanganan karhutla di wilayah lain. Pernyataan tersebut menunjukkan adanya upaya untuk mengupayakan bantuan, tetapi belum menjadi kepastian bahwa helikopter akan dikerahkan ke Jawa Timur. Tidak ada informasi mengenai jadwal kedatangan maupun kepastian pemberian bantuan udara. Sementara koordinasi berlangsung, penanganan kebakaran tetap perlu dilanjutkan melalui langkah-langkah yang tersedia di daerah. Perkembangan dukungan dari BNPB akan bergantung pada hasil komunikasi serta kondisi operasi penanggulangan karhutla di berbagai wilayah.
Sebelum dukungan pemadaman dari udara tersedia, penanganan sementara dipusatkan pada upaya membatasi penjalaran api di kawasan terdampak. Salah satu langkah yang dilakukan petugas ialah membuat sekat bakar, yaitu jalur yang dibersihkan dari bahan-bahan mudah terbakar agar api lebih sulit bergerak ke area lain. Langkah ini menjadi penting ketika kondisi medan atau akses menuju titik kebakaran menyulitkan pemadaman langsung. Petugas berupaya mengendalikan batas kebakaran sembari menunggu bantuan tambahan, sehingga api tidak semakin dekat dengan lokasi yang perlu dilindungi.
Pembuatan sekat bakar terutama diarahkan untuk mencegah kebakaran mendekati permukiman warga dan fasilitas umum. Jalur penghalang disiapkan dengan mempertimbangkan arah penjalaran api serta kondisi lingkungan di sekitar titik terdampak. Upaya ini tidak serta-merta memadamkan seluruh sumber api, tetapi dapat membantu mengurangi kemungkinan kebakaran meluas ke kawasan yang lebih berisiko. Karena itu, petugas tetap perlu memantau perkembangan di lapangan dan menyesuaikan penanganan dengan perubahan situasi. Perlindungan terhadap warga dan fasilitas umum menjadi perhatian dalam menentukan area yang harus dibatasi terlebih dahulu.
Emil menyebut upaya pemadaman dan penyekatan melibatkan sejumlah unsur yang bekerja bersama, yakni polisi hutan, Manggala Agni, serta relawan terlatih. Kerja sama tersebut mendukung pelaksanaan langkah di lapangan, mulai dari penanganan titik api hingga pembuatan sekat untuk menahan penjalaran. Keterlibatan relawan yang telah mendapat pelatihan juga menjadi bagian dari upaya bersama, dengan tetap memperhatikan koordinasi dan keselamatan petugas. Untuk sementara, sekat bakar dan kerja pemadaman oleh unsur-unsur tersebut merupakan penanganan yang sedang dilakukan sebelum bantuan udara tersedia. Langkah tersebut ditujukan untuk mengendalikan risiko api meluas, sementara perkembangan kebakaran tetap dipantau oleh petugas terkait.
Baca juga: Lanud Sjamsudin Noor Kerahkan Tangki Portable dan Gambut Injection di Kawasan Ring I Bandara Sjamsudin Noor Atasi Titik Api Karhutla | Investigasi Pelimpahan Nomor Porsi Haji di Jawa Timur | Perkembangan Kawasan Hunian di Semarang






