DEN Sampaikan Langkah Antisipasi El Niño, Pangan, dan Karhutla kepada Prabowo

DEN Sampaikan Langkah Antisipasi El Niño, Pangan, dan Karhutla kepada Prabowo

Jakarta | Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menyampaikan sejumlah rekomendasi kepada Presiden Prabowo Subianto untuk mengantisipasi cuaca ekstrem, menjaga stabilitas pangan, serta melindungi kesehatan masyarakat dari dampak kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Rekomendasi itu disampaikan dalam pertemuan di Istana Merdeka, Jakarta, pada Selasa, 20 Oktober 2026. Wakil Ketua DEN Marie Elka Pangestu menjelaskan pokok rekomendasi tersebut setelah pertemuan. Pembahasan mengaitkan potensi El Niño dan perubahan kondisi cuaca dengan kebutuhan menyiapkan respons yang dapat melindungi masyarakat serta mengurangi risiko pada sektor penting.

Perhatian terhadap El Niño menjadi penting karena perubahan pola hujan dan meningkatnya kondisi kering dapat berpengaruh terhadap kegiatan pertanian dan ketersediaan pangan. Dalam situasi seperti itu, langkah antisipasi diperlukan agar gangguan pada produksi atau distribusi tidak berkembang menjadi tekanan terhadap pasokan dan harga. Karena itu, upaya menjaga stabilitas pangan menjadi bagian dari rekomendasi DEN kepada Presiden. Penyampaian tersebut menempatkan kesiapan menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem sebagai kebutuhan lintas sektor, bukan semata persoalan kondisi alam. Namun, informasi yang disampaikan mengenai pertemuan ini tidak merinci bentuk kebijakan maupun langkah operasional tertentu yang akan diterapkan.

DEN juga menyoroti risiko karhutla dan dampaknya terhadap kesehatan masyarakat. Kebakaran dapat menimbulkan asap yang mengganggu kualitas udara, sehingga perlindungan warga menjadi pertimbangan dalam menghadapi ancaman tersebut. Kaitan cuaca kering, kemungkinan kebakaran, dan paparan asap menunjukkan bahwa mitigasi perlu memperhatikan dampak lingkungan sekaligus kesehatan. Marie Elka Pangestu menjadi pihak yang menjelaskan rekomendasi DEN dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo. Dengan demikian, inti pembahasan di Istana Merdeka mencakup kesiapan menghadapi El Niño dan cuaca ekstrem, menjaga ketahanan pangan, serta mengurangi risiko kesehatan yang berkaitan dengan karhutla. Rekomendasi itu disampaikan sebagai bahan antisipasi terhadap risiko yang dapat muncul, tanpa rincian tambahan mengenai peserta lain, agenda pertemuan, atau keputusan yang diambil.

Dewan Ekonomi Nasional (DEN) mendorong pemerintah memperkuat kesiapsiagaan menghadapi perubahan iklim ekstrem, terutama karena dampaknya dapat menjalar ke sektor pangan dan meningkatkan risiko bencana. Menurut Marie, El Niño diperkirakan berlangsung hingga kuartal pertama 2027. Setelah itu, kondisi berpotensi beralih dan disusul La Niña pada pertengahan tahun depan. Perubahan tersebut perlu diantisipasi sejak dini karena dapat membawa pola cuaca yang berbeda di berbagai wilayah Indonesia.

DEN mengusulkan agar pemerintah memanfaatkan data dan prakiraan cuaca secara lebih sistematis untuk mengenali daerah yang berisiko mengalami kekeringan, banjir, maupun bencana terkait lainnya. Informasi tersebut dapat dihimpun dan diperbarui, kemudian digunakan untuk memetakan wilayah berdasarkan tingkat ancaman serta perkiraan waktu terjadinya. Dengan gambaran risiko yang lebih jelas, langkah pemerintah tidak hanya bersifat umum, tetapi dapat disesuaikan dengan kondisi setempat.

Pemetaan risiko itu juga dapat menjadi landasan dalam menentukan bentuk antisipasi yang tepat. Di daerah yang menghadapi kekurangan air, misalnya, penggunaan pompa perlu direncanakan sesuai kebutuhan dan ketersediaan sumber air. Sementara itu, informasi mengenai curah hujan dan kondisi lahan dapat membantu petani serta pemerintah daerah menyesuaikan jadwal tanam. Keputusan tersebut penting agar kegiatan pertanian tidak dilakukan pada waktu yang berisiko menimbulkan gagal tanam atau kerugian lebih besar.

Penyesuaian tidak selalu berarti mempercepat kegiatan tanam. Apabila kondisi kering diperkirakan berlanjut dan air tidak mencukupi, penanaman dapat ditunda sampai keadaan lebih mendukung. Pendekatan ini membutuhkan koordinasi pemerintah pusat, pemerintah daerah, lembaga penyedia informasi cuaca, dan pelaku pertanian. Arahan yang disampaikan kepada masyarakat juga perlu berdasarkan data terbaru serta menjelaskan alasan dan rentang waktu tindakan yang disarankan.

Marie menyampaikan rekomendasi agar prakiraan cuaca digunakan untuk mengidentifikasi wilayah rawan dan menentukan langkah antisipasi secara terukur. Dengan pemetaan yang diperbarui dan tindak lanjut yang sesuai, pemerintah dapat mempersiapkan respons lebih awal, mengurangi risiko terhadap produksi pangan, serta meningkatkan kesiapan menghadapi kemungkinan cuaca ekstrem sepanjang periode perubahan iklim tersebut.

Selain mengantisipasi dampak El Niño terhadap sektor pertanian, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) menaruh perhatian pada ketersediaan pangan dan kestabilan harga. Risiko cuaca yang lebih kering dapat mengganggu kegiatan produksi, termasuk pola tanam dan hasil panen di sejumlah wilayah. Karena itu, kesiapan pasokan perlu dipastikan sebelum gangguan berkembang menjadi tekanan terhadap kebutuhan masyarakat. Perhatian ini disampaikan dalam konteks langkah antisipasi yang dibahas DEN bersama Presiden Prabowo Subianto, agar kebijakan pangan dapat disiapkan secara terukur dan tidak hanya merespons keadaan setelah terjadi.

Salah satu langkah yang perlu diperkuat ialah memastikan kecukupan cadangan pangan, terutama beras, sebagai komoditas pokok. Pengelolaan stok perlu memperhitungkan kebutuhan konsumsi, kondisi produksi, serta kemungkinan hambatan dalam pengadaan dan penyaluran. Cadangan yang memadai dapat membantu pemerintah menjaga kesinambungan pasokan ketika panen terganggu atau distribusi menghadapi kendala. Pada saat yang sama, pemantauan stok di berbagai daerah penting dilakukan supaya pemerintah mengetahui wilayah yang memerlukan dukungan lebih awal. Ketersediaan secara nasional saja belum cukup apabila pangan tidak dapat menjangkau konsumen di lokasi yang membutuhkan.

Penguatan distribusi menjadi bagian penting dari antisipasi tersebut. Pemerintah perlu menyiapkan koordinasi logistik agar beras dan bahan pangan lain dapat dipindahkan secara lancar, khususnya ketika cuaca berdampak pada akses transportasi atau pasokan lokal. Marie juga menyebut perlunya operasi pasar apabila terjadi gejolak harga. Intervensi semacam itu dapat dipertimbangkan untuk membantu menjaga keterjangkauan pangan, dengan pelaksanaan yang memperhatikan kondisi pasokan dan sasaran masyarakat. DEN menekankan alasan kewaspadaan ini karena El Niño kerap diikuti kenaikan harga pangan: produksi pertanian dapat terganggu, sehingga ketersediaan komoditas berisiko menyusut dan tekanan terhadap harga dapat muncul. Risiko tersebut bukan berarti kenaikan harga telah terjadi. Dengan memantau produksi, cadangan, arus distribusi, serta perkembangan harga secara berkala, pemerintah dapat menentukan respons yang sesuai. Langkah antisipatif diharapkan menjaga pasokan tetap tersedia dan mencegah gangguan cuaca berubah menjadi beban yang lebih besar bagi rumah tangga.Dalam pertemuan dengan Presiden Prabowo, Dewan Ekonomi Nasional (DEN) turut membahas kebakaran hutan dan lahan (karhutla) serta dampak kabut asap terhadap kesehatan masyarakat. Sejumlah wilayah di Sumatra dan Kalimantan disebut terdampak, sehingga penanganan tidak hanya perlu berfokus pada pemadaman, tetapi juga pada perlindungan warga selama kondisi asap berlangsung. Paparan kabut asap dapat menjadi persoalan kesehatan masyarakat, terutama ketika kebakaran meluas atau berlangsung dalam waktu tertentu. Karena itu, DEN menyoroti perlunya langkah yang mencakup penanganan kejadian karhutla sekaligus dukungan bagi penduduk yang berada di wilayah terdampak.

Pembahasan juga mencakup kebakaran yang telah terjadi dan upaya penanganannya, termasuk pengairan lahan gambut. Langkah ini menjadi bagian dari perhatian terhadap kondisi lahan yang terbakar dan kebutuhan mengendalikan dampak kebakaran. Penanganan di lapangan perlu berjalan seiring dengan pemantauan keadaan warga yang terpapar asap. DEN menyampaikan bahwa pelayanan kesehatan bagi masyarakat perlu diperkuat di enam wilayah yang dinilai mengalami dampak cukup berat. Wilayah tersebut meliputi tiga provinsi di Kalimantan serta Sumatera Selatan, Jambi, dan Riau. Nama tiga provinsi di Kalimantan tidak dirinci dalam informasi yang disampaikan, sehingga tidak disebutkan lebih lanjut.

Penguatan layanan kesehatan dimaksudkan untuk membantu warga menghadapi risiko kesehatan akibat kabut asap di wilayah terdampak. DEN juga mengusulkan perlindungan khusus bagi masyarakat yang terkena dampak, termasuk pembagian masker. Usulan tersebut menempatkan kebutuhan warga sebagai bagian penting dari respons terhadap karhutla, selain penanganan kebakaran dan pengairan lahan gambut.

Baca juga: Reshuffle Menteri Keuangan: Langkah Strategis Prabowo untuk Pemerintahan | Usulan Pendidikan Gratis Dari Prabowo: Rencana dan Tindakan Tegas Terhadap Karhutla | Bukan Sekadar Jalan Santai, 10 Ribu Peserta Satukan Langkah di HUT TNI