Peluang The Fed Menahan Suku Bunga Menguat, Ini Pertimbangan Bank Indonesia

BI Kaitkan Insentif GWM dengan Penyaluran Kredit dan Kepemilikan SBN-SRBI

JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 9 Oktober 2026, Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti memperkirakan Federal Reserve atau The Fed memiliki peluang untuk menahan suku bunga acuan pada salah satu pertemuan yang masih tersisa hingga akhir tahun. Perkiraan tersebut mencerminkan adanya kemungkinan perubahan dalam arah kebijakan moneter Amerika Serikat, terutama setelah sejumlah anggota bank sentral dinilai mulai menunjukkan sikap yang lebih melunak terhadap kondisi ekonomi dan prospek inflasi.

Menurut Destry, pelunakan sikap tersebut dapat membuka ruang bagi The Fed untuk mempertahankan tingkat suku bunga pada level yang berlaku, alih-alih melanjutkan perubahan kebijakan secara agresif. Keputusan menahan suku bunga biasanya dipertimbangkan ketika bank sentral memerlukan waktu untuk menilai dampak kebijakan sebelumnya terhadap pertumbuhan ekonomi, pasar tenaga kerja, konsumsi, serta stabilitas harga. Dengan demikian, arah kebijakan The Fed akan sangat bergantung pada perkembangan data ekonomi Amerika Serikat menjelang setiap rapat.

Meski demikian, pandangan Destry bukanlah pengumuman resmi mengenai keputusan Federal Reserve. The Fed belum menetapkan secara pasti apakah akan menahan, menaikkan, atau menurunkan suku bunga pada pertemuan mendatang. Pernyataan tersebut lebih tepat dipahami sebagai penilaian Bank Indonesia terhadap kecenderungan komunikasi dan sikap para pejabat bank sentral Amerika Serikat.

Perubahan nada dari anggota The Fed menjadi perhatian bagi negara-negara lain karena kebijakan suku bunga Amerika Serikat dapat memengaruhi arus modal global, nilai tukar, dan kondisi pasar keuangan. Bagi Indonesia, kemungkinan The Fed menahan suku bunga dapat memberikan ruang untuk mencermati perkembangan eksternal dengan lebih tenang. Namun, Bank Indonesia tetap perlu mempertimbangkan faktor domestik, termasuk stabilitas rupiah, inflasi, pertumbuhan ekonomi, dan kebutuhan menjaga daya tarik aset keuangan nasional.

Ekspektasi pasar terhadap arah kebijakan moneter The Federal Reserve (The Fed) mengalami perubahan cukup tajam dalam waktu singkat. Saat Rapat Dewan Gubernur Bank Indonesia pada September berlangsung, pelaku pasar masih menilai peluang kenaikan suku bunga The Fed pada Oktober sangat besar. Probabilitasnya diperkirakan mencapai sekitar 90 persen, mencerminkan keyakinan bahwa bank sentral Amerika Serikat akan melanjutkan pengetatan kebijakan untuk merespons tekanan inflasi dan menjaga kredibilitasnya.

Namun, persepsi tersebut mulai bergeser menjelang akhir September. Seiring munculnya perkembangan baru dalam komunikasi dan sikap The Fed, probabilitas kenaikan suku bunga pada Oktober turun menjadi sekitar 40 persen. Tidak lama kemudian, perkiraan itu kembali melemah hingga berada di kisaran 30 persen. Penurunan tersebut menunjukkan bahwa pasar tidak lagi melihat kenaikan suku bunga sebagai skenario yang dominan, meskipun peluangnya belum sepenuhnya hilang.

Perubahan probabilitas itu mencerminkan dinamika sikap The Fed dan cara pelaku pasar menafsirkan berbagai indikator ekonomi. Pernyataan pejabat The Fed, arah inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, serta perkembangan pertumbuhan ekonomi dapat memengaruhi penilaian investor terhadap keputusan berikutnya. Ketika sinyal yang disampaikan bank sentral dianggap lebih berhati-hati, pasar cenderung mengurangi ekspektasi terhadap kenaikan suku bunga dalam waktu dekat.

Bagi Bank Indonesia, perubahan ekspektasi tersebut menjadi salah satu pertimbangan penting dalam menilai ruang kebijakan domestik. Berkurangnya kemungkinan kenaikan suku bunga The Fed dapat mengurangi tekanan terhadap arus modal, nilai tukar rupiah, dan imbal hasil aset keuangan dalam negeri. Meski demikian, BI tetap perlu mencermati setiap perubahan komunikasi The Fed karena probabilitas pasar dapat bergerak cepat mengikuti data ekonomi dan keputusan kebijakan terbaru.

Deputi Gubernur Bank Indonesia Destry Damayanti menilai peluang The Federal Reserve menahan suku bunga acuannya pada pertemuan Oktober dapat menguat apabila pelunakan sikap bank sentral Amerika Serikat dan perubahan ekspektasi pasar berlangsung secara konsisten. Perkembangan tersebut menjadi salah satu faktor penting yang diamati karena arah kebijakan The Fed berpengaruh terhadap pergerakan pasar keuangan global, nilai tukar, serta ruang kebijakan moneter negara lain, termasuk Indonesia.

Menurut penilaian tersebut, konsistensi menjadi syarat utama. Apabila dalam beberapa waktu mendatang sinyal kebijakan The Fed semakin dovish, sementara pelaku pasar terus menyesuaikan perkiraannya terhadap kemungkinan kenaikan suku bunga, probabilitas penahanan bunga pada Oktober akan semakin besar. Perubahan ekspektasi pasar biasanya tercermin dalam pergerakan imbal hasil obligasi, nilai tukar dolar Amerika Serikat, dan instrumen yang mencerminkan perkiraan suku bunga.

Namun, peluang tersebut belum dapat dipandang sebagai keputusan yang pasti. The Fed tetap akan mempertimbangkan data ekonomi terbaru dan kondisi yang berkembang di Amerika Serikat sebelum menentukan kebijakan. Inflasi, pasar tenaga kerja, aktivitas ekonomi, stabilitas sektor keuangan, serta perkembangan konsumsi akan menjadi bagian dari pertimbangan. Karena itu, perubahan data yang tidak sesuai dengan ekspektasi dapat kembali memengaruhi sikap bank sentral dan mengubah proyeksi pasar.

Destry juga mengingatkan bahwa arah kebijakan The Fed tidak sepenuhnya berakhir pada keputusan Oktober. Setelah pertemuan tersebut, masih terdapat pertemuan lain pada Desember yang dapat menjadi ruang bagi penyesuaian kebijakan. Dengan demikian, penahanan suku bunga pada Oktober, apabila terjadi, belum otomatis menandai berakhirnya siklus kebijakan ketat. Bank Indonesia perlu terus memantau setiap perkembangan secara hati-hati agar dapat menilai dampaknya terhadap stabilitas ekonomi domestik dan menentukan respons kebijakan yang sesuai.

Bank Indonesia tetap mengambil sikap forward looking dalam mencermati arah kebijakan moneter global, termasuk keputusan dan komunikasi terbaru The Fed. Meskipun peluang bank sentral Amerika Serikat menahan suku bunga dinilai menguat, BI tidak menjadikan satu skenario sebagai satu-satunya dasar dalam merumuskan respons. Perubahan data inflasi, kondisi pasar tenaga kerja, pertumbuhan ekonomi, serta dinamika pasar keuangan dapat memengaruhi keputusan The Fed pada pertemuan berikutnya. Karena itu, kemungkinan kembali terjadi kenaikan suku bunga tetap menjadi bagian dari risiko yang diperhitungkan.

Untuk menghadapi berbagai perkembangan tersebut, BI menyatakan telah menyiapkan sejumlah alternatif kebijakan. Persiapan ini memungkinkan bank sentral merespons perubahan lingkungan eksternal secara terukur, tanpa harus menunggu tekanan terhadap perekonomian domestik semakin besar. Alternatif yang disiapkan akan dipertimbangkan berdasarkan kondisi pasar, stabilitas nilai tukar, arus modal, inflasi, serta prospek pertumbuhan ekonomi nasional. Namun, BI belum menyampaikan kebijakan spesifik yang akan ditempuh karena keputusan akhirnya akan bergantung pada perkembangan data dan situasi yang dihadapi.

Sikap tersebut menunjukkan bahwa BI berupaya menjaga fleksibilitas dalam menjalankan kebijakan moneter. Setiap langkah perlu mempertimbangkan keseimbangan stabilitas perekonomian dan kebutuhan untuk mempertahankan momentum pemulihan. Dalam menghadapi potensi perubahan arah suku bunga global, bank sentral juga perlu memperhatikan dampaknya terhadap biaya pembiayaan, likuiditas, pasar keuangan, dan keyakinan pelaku usaha.

Kesiapan menyiapkan berbagai pilihan kebijakan berkaitan langsung dengan mandat BI untuk menjaga stabilitas sekaligus menciptakan iklim ekonomi yang kondusif. Dengan pendekatan yang antisipatif, BI dapat menilai setiap risiko secara lebih menyeluruh dan menyesuaikan respons sesuai kebutuhan. Langkah ini bukan penetapan arah kebijakan tertentu, melainkan bagian dari upaya memastikan bank sentral memiliki ruang dan instrumen yang memadai ketika keputusan The Fed maupun kondisi global bergerak di luar perkiraan.