Polri  

Saat Polisi Hadir Bukan untuk Menilang, Tapi Mendengarkan

Saat Polisi Hadir Bukan untuk Menilang, Tapi Mendengarkan

Tuban, Jawa Timur — Hari itu, Tuban seolah mengalami kejadian yang tak biasa. Polisi datang, tapi tak ada yang takut.

Tak terdengar sirene.
Tak ada peluit.
Tak ada tatapan curiga.

Yang ada justru senyum—dari balik seragam cokelat yang selama ini identik dengan ketegangan.

Jajaran Satlantas Polres Tuban turun ke desa-desa bukan untuk menilang, bukan untuk mencari salah, melainkan untuk satu hal yang sederhana namun langka: menyapa manusia sebagai manusia.

Namanya Polantas Menyapa.
Dan pagi itu, program kecil ini mengguncang cara pandang masyarakat tentang polisi.


Saat Polisi Hadir Tanpa Aura Menakutkan

Tak ada jarak.
Tak ada formalitas berlebihan.

Seorang petani bercaping duduk sejajar dengan polisi.
Seorang ibu rumah tangga bertanya soal SIM tanpa gemetar.
Seorang pedagang pasar berbicara tanpa rasa curiga.

“Bapak, Ibu, santai saja. Kami di sini bukan untuk mempersulit,”
ucap seorang petugas, ringan—namun menghantam kuat ke hati warga.

Kalimat sederhana itu merobohkan tembok psikologis yang selama puluhan tahun berdiri kokoh antara polisi dan rakyat kecil.


Dari Takut Bertanya, Menjadi Berani Bicara

Bagi banyak warga, urusan SIM, pajak kendaraan, hingga BPKB selama ini adalah momok:
ribet, mahal, dan bikin stres.

Namun pagi itu, suasana berubah total.

Di pasar tradisional, para pedagang menerima edukasi pajak kendaraan tanpa tekanan, tanpa nada menggurui. Penjelasan disampaikan dengan bahasa sederhana—bahasa rakyat.

“Biasanya kami takut tanya, Mas. Sekarang jadi paham. Polisi kok begini ya… enak,”
ujar seorang pedagang sayur, matanya berbinar.

Bukan hanya informasi yang dibagikan.
Rasa dihargai ikut tumbuh.


BPKB Tak Lagi Jadi Rahasia yang Menakutkan

Bagi warga yang baru membeli sepeda motor, pengambilan BPKB sering kali terasa membingungkan.
Hari itu, semua dijelaskan pelan-pelan.

Tanpa nada tinggi.
Tanpa wajah dingin.

“Kami tidak ingin masyarakat bingung atau takut salah. Polisi harus memberi kepastian,”
ujar salah satu petugas.

Kalimat singkat.
Namun terasa mahal dalam pelayanan publik hari ini.


Kasat Lantas Tuban: Polisi Harus Turun dan Membumi

Kasat Lantas Polres Tuban, AKP Muhammad Hariyazie Syakhranie, S.Tr.K., S.I.K., menegaskan bahwa Polantas Menyapa bukan sekadar program pencitraan.

“Kami ingin masyarakat melihat polisi sebagai sahabat. Tidak ada rasa takut. Tidak ada kebingungan. Polisi harus hadir dan menemani,” tegasnya.

Bukan sekadar kata-kata.
Lapangan menjadi saksi.


Lebih dari Program, Ini Tentang Rasa dan Kepercayaan

Hari itu, Tuban tidak sekadar menyaksikan kegiatan kepolisian.
Tuban menyaksikan perubahan wajah negara.

Polisi tak lagi berdiri di atas.
Tapi duduk di samping.

Polantas Menyapa bukan hanya soal lalu lintas.
Ia tentang kepercayaan yang dipulihkan.
Tentang rasa aman yang dihadirkan.
Tentang ketenangan yang ditanamkan.

Langkahnya kecil.
Dampaknya besar.

Dari desa-desa di Tuban, sebuah harapan tumbuh pelan-pelan:
bahwa polisi bisa dirindukan,
bahwa pelayanan publik bisa menyentuh hati,
dan bahwa negara masih bisa terasa dekat.

Bukan ditakuti—tapi dinanti.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *