Kota Aubagne | Seorang siswa berusia 14 tahun ditahan setelah diduga menembak kepala sekolah dan seorang guru di Joseph Lakanal Middle School, Aubagne, Prancis selatan. Insiden tersebut terjadi pada Senin dan segera memicu respons kepolisian di lingkungan sekolah. Penahanan terhadap siswa itu dilakukan setelah aparat mengamankan lokasi serta memulai penyelidikan untuk mengungkap rangkaian peristiwa dan latar belakang penembakan.
Menurut informasi awal, senjata yang digunakan adalah senapan berburu. Senjata tersebut diduga disembunyikan di dalam sebuah kotak gitar sebelum dibawa ke area sekolah. Cara penyimpanan itu menjadi salah satu bagian yang diperiksa oleh penyidik, termasuk bagaimana siswa tersebut dapat membawa senapan ke lingkungan pendidikan tanpa segera diketahui.
Kepala sekolah dan guru yang menjadi sasaran mengalami luka tembak pada bagian kaki. Selain kedua korban tersebut, satu orang lainnya juga terluka setelah terserempet tembakan. Ketiga korban kemudian mendapat penanganan medis, sementara aparat melanjutkan pemeriksaan terhadap tempat kejadian dan pihak-pihak yang berada di sekitar sekolah saat insiden berlangsung.
Polisi menyatakan kondisi kepala sekolah dan guru tidak kritis. Pernyataan itu menunjukkan bahwa luka yang mereka alami tidak mengancam keselamatan jiwa, meskipun penembakan tersebut menimbulkan kepanikan di sekolah dan lingkungan sekitarnya. Siswa berusia 14 tahun itu kini berada dalam penahanan untuk menjalani proses pemeriksaan sesuai ketentuan yang berlaku bagi anak. Penyelidikan akan menentukan secara lebih jelas motif, kronologi, serta kemungkinan faktor lain yang berkaitan dengan penggunaan senapan berburu tersebut.
Berdasarkan keterangan jaksa penuntut umum Marseille, Nicolas Bessone, dan Wali Kota Aubagne, Jean-Pierre Squillari, rangkaian penembakan berlangsung di dalam lingkungan sekolah sebelum pelaku berhasil diamankan. Siswa berusia 14 tahun itu disebut membawa senjata dan melepaskan satu atau dua tembakan di lantai pertama gedung sekolah. Informasi mengenai jumlah tembakan pada tahap awal masih disampaikan dalam bentuk perkiraan oleh pihak berwenang.
Setelah menembak di lantai pertama, pelaku kemudian bergerak menuju lantai dua. Di area tersebut, ia kembali menggunakan senjatanya dan melepaskan dua tembakan. Rentetan kejadian itu menyebabkan kepala sekolah dan seorang guru terluka. Pihak berwenang masih menangani penyelidikan untuk memastikan urutan peristiwa, posisi setiap korban, serta keadaan yang melatarbelakangi tindakan tersebut.
Situasi akhirnya dapat dihentikan setelah seorang staf sekolah berupaya mendekati pelaku dan berhasil melucutinya. Tindakan tersebut dilakukan sebelum polisi tiba di lokasi. Setelah senjata dikuasai, petugas kepolisian datang dan menangkap siswa tersebut. Keberhasilan staf mengamankan senjata menjadi faktor penting dalam mencegah kemungkinan terjadinya tembakan lanjutan di dalam sekolah.
Menurut penjelasan yang disampaikan jaksa, amunisi yang digunakan dalam insiden itu merupakan jenis yang dipakai pada senapan kaliber 12, yang juga dikenal sebagai 12-gauge shotgun. Keterangan mengenai jenis amunisi tersebut menjadi bagian dari pemeriksaan kepolisian dan penyelidikan forensik. Para penyidik perlu mencocokkan temuan di lokasi dengan keterangan para saksi untuk mengklarifikasi jumlah tembakan serta penggunaan senjata secara keseluruhan.
Penangkapan pelaku tidak serta-merta menutup proses hukum. Aparat masih harus memeriksa siswa tersebut, meminta keterangan dari korban dan saksi, serta menelusuri bagaimana senjata dan amunisi dapat dibawa ke sekolah. Karena pelaku masih berusia 14 tahun, proses pemeriksaan dan penanganannya juga akan mempertimbangkan ketentuan hukum yang berlaku bagi anak di bawah umur.
Suasana di sekolah berubah tegang setelah suara tembakan terdengar dari salah satu bagian gedung. Sejumlah siswa segera mencari perlindungan di dalam ruang kelas, sementara yang lain berhamburan ke koridor ketika alarm berbunyi. Pintu-pintu kelas ditutup, beberapa siswa berlindung di balik meja, dan sebagian lainnya berusaha menjauh dari sumber suara tanpa mengetahui secara pasti apa yang sedang terjadi.
Seorang siswa mengatakan bahwa guru matematikanya sempat mengira suara tembakan pertama sebagai kebisingan dari pekerjaan konstruksi yang berlangsung di sekitar sekolah. Dugaan itu berubah ketika suara berikutnya terdengar dan alarm mulai berbunyi. Menurut kesaksiannya, para siswa kemudian saling memperingatkan untuk tetap merunduk dan bergerak dengan hati-hati. Kepanikan menyebar cepat, terutama karena informasi mengenai situasi di dalam gedung belum segera diketahui.
Dalam upaya menyelamatkan diri, para siswa memiliki dua jalur yang dapat digunakan. Jalur pertama mengarah ke gedung olahraga, sedangkan jalur lainnya menuju luar lingkungan sekolah. Siswa tersebut menuturkan bahwa dirinya memilih berlari ke arah luar sekolah. Ia mengatakan kepanikan dan naluri bertahan hidup membuatnya terus bergerak, meskipun suasana di koridor sangat kacau. Para siswa berlari tanpa banyak berbicara, mengikuti arah yang dianggap paling aman, sementara staf sekolah berupaya mengarahkan mereka menjauh dari area berbahaya. Setelah keluar, mereka berkumpul di lokasi yang lebih terbuka dan menunggu petugas memastikan keadaan, dengan sebagian masih terlihat terguncang oleh kejadian itu.
Pemerintah Prancis mengecam keras penembakan yang terjadi di sebuah sekolah di Aubagne. Menteri Pendidikan Prancis Edouard Geffray menyebut insiden tersebut sebagai tindakan yang tidak dapat diterima, terutama karena berlangsung di lingkungan pendidikan dan menyebabkan kepala sekolah serta seorang guru terluka. Pernyataan itu menegaskan bahwa sekolah seharusnya menjadi ruang yang aman bagi siswa, pendidik, dan seluruh staf, bukan tempat terjadinya kekerasan bersenjata.
Geffray juga mengaitkan peristiwa tersebut dengan kekhawatiran yang lebih luas mengenai meningkatnya kekerasan yang tidak terkendali di masyarakat. Meski demikian, penilaian pemerintah masih perlu ditempatkan dalam kerangka penyelidikan yang sedang berjalan, mengingat motif dan rangkaian kejadian belum sepenuhnya diketahui. Kantor perdana menteri menyatakan bahwa Menteri Dalam Negeri dan Menteri Pendidikan sedang menuju lokasi kejadian untuk memperoleh informasi langsung, berkoordinasi dengan aparat setempat, serta memberikan dukungan kepada komunitas sekolah yang terdampak.
Kekerasan bersenjata yang dilakukan siswa di sekolah tergolong jarang terjadi di Prancis. Salah satu kasus yang kerap disebut terjadi pada 2017, ketika seorang siswa berusia 16 tahun melepaskan tembakan di sebuah sekolah menengah atas di wilayah selatan negara itu. Peristiwa tersebut melukai tiga siswa dan kepala sekolah. Catatan itu memberikan konteks bahwa insiden di Aubagne berlangsung dalam latar yang tidak umum, meskipun tetap menimbulkan perhatian besar terhadap keamanan sekolah dan akses terhadap senjata.
Belum terdapat informasi awal yang mengaitkan penembakan di Aubagne dengan aksi protes siswa sekolah menengah atas yang telah berlangsung selama beberapa pekan. Aksi tersebut berfokus pada tuntutan peningkatan sumber daya dan dukungan bagi sekolah, sehingga hubungan kedua peristiwa tidak seharusnya disimpulkan tanpa bukti. Pemerintah dan aparat penegak hukum masih perlu menyampaikan pembaruan berdasarkan hasil penyelidikan, sementara prioritas awal diarahkan pada perawatan korban, perlindungan warga sekolah, dan penjelasan mengenai penyebab kejadian.
Baca juga: Kecelakaan Motor di Cinere, Dua Pengendara Terluka | Kembali ke Sekolah: Aturan Terbaru Pembelajaran di Jakarta | Tragedi Penembakan ASN di Jayawijaya

