Kabupaten Papua Selatan Terapkan Belajar Daring Kabut | Kabut asap akibat kebakaran hutan dan lahan mendorong perubahan kegiatan belajar-mengajar di tiga kabupaten di Papua Selatan. Boven Digoel, Mappi, dan Asmat menerapkan pembelajaran daring sebagai pengganti sementara kegiatan tatap muka. Kebijakan tersebut diambil ketika kondisi udara menurun akibat kabut asap yang menyelimuti wilayah terdampak.
Peralihan ini menjadi langkah untuk menjaga kesehatan pelajar selama kualitas udara belum mendukung pelaksanaan pembelajaran di ruang kelas. Dengan kegiatan belajar dilakukan secara daring, pelajar tidak perlu berada di lingkungan sekolah yang berpotensi terpapar kabut asap. Keputusan tersebut menunjukkan bahwa penyelenggaraan pendidikan perlu menyesuaikan diri dengan keadaan lingkungan dan mempertimbangkan keselamatan peserta didik.
Di Boven Digoel, Mappi, dan Asmat, pembelajaran daring menjadi pilihan dalam menghadapi dampak kabut asap karhutla terhadap aktivitas pendidikan. Perubahan metode ini menempatkan perlindungan kesehatan pelajar sebagai pertimbangan utama, sekaligus memungkinkan proses belajar tetap berlangsung tanpa mengharuskan mereka mengikuti kegiatan tatap muka ketika udara memburuk. Kebijakan tersebut berlaku sebagai respons terhadap situasi yang ditimbulkan kebakaran hutan dan lahan di Papua Selatan.
Peralihan pembelajaran tatap muka ke sistem jarak jauh di tiga kabupaten Papua Selatan merupakan keputusan pemerintah daerah masing-masing. Kebijakan tersebut diambil sebagai respons terhadap kabut asap kebakaran hutan dan lahan yang menyelimuti wilayah mereka. Dengan pengalihan kegiatan belajar dari sekolah ke rumah, pemerintah daerah menyesuaikan pelaksanaan pendidikan dengan kondisi udara yang sedang dihadapi oleh masyarakat.
Keputusan itu tidak berarti kegiatan pendidikan dihentikan. Proses pembelajaran tetap dilaksanakan secara daring atau melalui pola jarak jauh sesuai pengaturan yang ditetapkan oleh pemerintah daerah dan satuan pendidikan. Guru tetap memberikan materi serta pendampingan kepada pelajar, sementara kegiatan belajar berlangsung tanpa kehadiran siswa di lingkungan sekolah selama kondisi kabut asap masih menjadi perhatian.
Kepala Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan, Paskalis Prayitno, menyatakan dukungannya terhadap langkah yang diambil oleh pemerintah daerah di tiga kabupaten tersebut. Menurut dia, pembelajaran tetap dapat berlangsung dari jarak jauh karena kegiatan di sekolah dikhawatirkan berdampak pada kesehatan para pelajar. Pernyataan itu menegaskan bahwa keselamatan siswa menjadi pertimbangan utama dalam menentukan bentuk kegiatan belajar pada situasi tersebut.
Dukungan dari pemerintah provinsi juga menunjukkan bahwa peralihan ke pembelajaran jarak jauh dipandang sebagai langkah yang sesuai dengan keadaan di wilayah terdampak kabut asap. Pemerintah daerah masing-masing kabupaten memiliki kewenangan untuk menyesuaikan pelaksanaan pendidikan berdasarkan kondisi setempat. Selama udara masih diselimuti asap, pembelajaran dari jarak jauh menjadi pilihan untuk menjaga agar kegiatan pendidikan tetap berjalan tanpa mengharuskan pelajar berada di sekolah.
Melalui kebijakan tersebut, akses terhadap proses belajar tetap dipertahankan, sekaligus menghindarkan siswa dari kegiatan di lingkungan sekolah yang dikhawatirkan memengaruhi kesehatan mereka. Pelaksanaan selanjutnya akan mengikuti penilaian pemerintah daerah terhadap kondisi kabut asap di wilayah masing-masing.
Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan terus memantau perkembangan kabut asap yang muncul akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Pemantauan tersebut dilakukan untuk melihat dampaknya terhadap proses belajar-mengajar, termasuk kondisi peserta didik, pendidik, serta kegiatan sekolah di wilayah yang terdampak. Perkembangan situasi menjadi perhatian karena kualitas udara yang menurun dapat memengaruhi keamanan dan kenyamanan warga sekolah selama kegiatan pembelajaran berlangsung.
Ruang lingkup pemantauan mencakup empat kabupaten di Papua Selatan, yakni Boven Digoel, Mappi, Asmat, dan Merauke. Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan memperhatikan kondisi di setiap wilayah tersebut sebagai bagian dari upaya memperoleh gambaran mengenai pengaruh kabut asap terhadap pelaksanaan pendidikan. Informasi mengenai keadaan udara dan aktivitas sekolah diperlukan agar perkembangan pembelajaran dapat terus dipantau secara cermat, terutama ketika kabut asap berpotensi mengganggu kegiatan di lingkungan pendidikan.
Pemantauan itu juga mencakup perubahan kondisi yang dapat berpengaruh terhadap proses belajar-mengajar dari waktu ke waktu. Dengan memerhatikan perkembangan di Boven Digoel, Mappi, Asmat, dan Merauke, dinas dapat mengikuti situasi pendidikan secara lebih menyeluruh di seluruh wilayah provinsi. Langkah tersebut menunjukkan bahwa dampak kabut asap terhadap pembelajaran menjadi bagian penting dalam perhatian pemerintah daerah, tanpa mengabaikan perbedaan kondisi yang mungkin terjadi di masing-masing kabupaten.
Paskalis Prayitno menyampaikan informasi mengenai pemantauan tersebut di Jayapura pada 13 Oktober 2026. Keterangan itu menegaskan bahwa Dinas Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Papua Selatan masih mengikuti perkembangan kabut asap serta dampaknya terhadap kegiatan pendidikan di empat kabupaten. Pemantauan berkelanjutan diperlukan agar kondisi proses belajar-mengajar tetap menjadi perhatian selama kabut asap masih berpotensi memengaruhi aktivitas sekolah.
Situasi berbeda terlihat di Kabupaten Merauke. Di wilayah ini, kegiatan belajar-mengajar masih dilaksanakan secara tatap muka di sekolah. Kabut asap yang menyelimuti Merauke dinilai belum setebal kondisi yang terjadi di Kabupaten Boven Digoel, Mappi, dan Asmat. Karena itu, aktivitas pendidikan belum dialihkan ke pembelajaran daring.
Perbedaan tersebut menunjukkan bahwa kebijakan sekolah tidak diterapkan secara seragam di seluruh wilayah Papua Selatan. Pemerintah daerah dan satuan pendidikan mempertimbangkan kondisi lingkungan setempat, terutama tingkat kepekatan kabut asap yang dapat memengaruhi keamanan serta kenyamanan siswa dan guru. Di tiga kabupaten lain, paparan kabut asap menjadi pertimbangan untuk memindahkan kegiatan belajar ke ruang digital, sedangkan Merauke masih menjalankan pembelajaran di ruang kelas.
Pelaksanaan sekolah tatap muka di Merauke berlangsung dalam konteks kondisi udara yang berbeda dari daerah terdampak lebih parah. Dengan demikian, perbedaan kebijakan Merauke dan Boven Digoel, Mappi, serta Asmat berkaitan dengan situasi kabut asap di masing-masing wilayah, bukan semata-mata dengan perbedaan penyelenggaraan pendidikan. Informasi yang tersedia belum menjelaskan kapan Merauke akan beralih ke pembelajaran daring ataupun kapan kegiatan belajar tatap muka di seluruh wilayah akan kembali berlangsung dalam kondisi normal.
Baca juga: Tingkatkan Kesadaran Bahaya Karhutla, TNI Kembali Laksanakan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Sambas | TNI intensifkan Penyuluhan Pencegahan Karhutla di Kabupaten Melawi Kalbar | Hercules TNI AU Mendarat di Lanud Sjamsudin Noor Bawa Kekuatan Baru dari Kemhan RI, Penanganan Karhutla Kalimantan Selatan Kian Diperkuat

