IHSG Memangkas Pelemahan, Pasar Indonesia Masih Dibayangi Tekanan Global

IHSG Memangkas Pelemahan, Pasar Indonesia Masih Dibayangi Tekanan Global

Jakarta | Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) mengakhiri sesi I perdagangan Selasa, 13 Oktober 2026, di zona merah. IHSG ditutup sementara pada level 5.911,46, turun 24,68 poin atau 0,42% dibandingkan posisi penutupan sebelumnya. Meski masih mencatat pelemahan, penurunan tersebut menunjukkan perbaikan signifikan apabila dibandingkan dengan tekanan pada awal perdagangan yang sempat membuat indeks terkoreksi lebih dari 1,7%.

Perdagangan dibuka pada level 5.914,98. Sejak menit-menit pertama, IHSG langsung menghadapi tekanan jual yang cukup kuat. Aksi pelepasan saham mendorong indeks bergerak turun secara tajam, mencerminkan kehati-hatian pelaku pasar di tengah sentimen global yang masih membebani bursa. Tekanan tersebut terlihat dari pergerakan indeks yang berada jauh di bawah level pembukaan dalam waktu singkat.

IHSG kemudian mencatat titik terendah harian di 5.828,68 sekitar pukul 09.30 WIB. Level tersebut menggambarkan bahwa koreksi pasar sempat berlangsung jauh lebih dalam daripada posisi akhir sesi I. Setelah menyentuh titik terendah, indeks mulai berbalik arah dan memangkas sebagian besar pelemahannya. Pemulihan ini menunjukkan munculnya minat beli pada sejumlah saham setelah harga mengalami penurunan tajam pada awal perdagangan.

Pergerakan hingga pertengahan hari memperlihatkan bahwa sentimen pasar belum sepenuhnya pulih. Walaupun tekanan jual mereda, IHSG tetap bertahan di bawah level pembukaan dan belum mampu kembali ke zona positif. Investor masih mencermati perkembangan pasar global serta dampaknya terhadap aset berisiko di dalam negeri. Dengan demikian, pelemahan indeks pada sesi I berlangsung lebih terbatas dibandingkan kondisi pada awal perdagangan, tetapi volatilitas tetap menjadi ciri utama pergerakan bursa.

IHSG menunjukkan perubahan arah intraday setelah sempat mencapai titik terendah pada level 5.828,68. Dari posisi tersebut, indeks perlahan berbalik menguat dan mencatat kenaikan sekitar 82,78 poin, atau kurang lebih 1,4%. Pergerakan itu membuat IHSG kembali mendekati posisi pembukaan, setelah sebelumnya berada dalam tekanan pada awal perdagangan. Pemulihan berlangsung secara bertahap, bukan melalui lonjakan yang langsung membawa indeks ke level lebih tinggi.

Menjelang pukul 10.00 WIB, IHSG mulai merangkak naik dari kisaran 5.830. Penguatan kemudian berlanjut hingga indeks menembus area 5.900. Pergerakan tersebut menandai perubahan arah yang cukup jelas dalam perdagangan hari itu, karena indeks beranjak dari titik terendah menuju level yang semakin dekat dengan posisi pembukaan. Setelah melewati area 5.900, laju kenaikan tidak berlangsung secara lurus. IHSG lebih banyak bergerak menyamping dengan rentang yang relatif terbatas.

Dalam fase pergerakan menyamping itu, IHSG berada di kisaran 5.890 hingga 5.915. Rentang tersebut mencerminkan pola perdagangan yang lebih stabil setelah indeks berhasil memulihkan sebagian pelemahannya. Menjelang siang, IHSG kembali menguat dan sempat mencapai level tertinggi harian di 5.927,13. Namun, posisi tersebut tidak bertahan hingga akhir perdagangan. Indeks kemudian terkoreksi tipis dan ditutup pada level 5.911,46.

Dengan penutupan itu, IHSG berhasil memangkas sebagian besar penurunan dari titik terendah hariannya. Urutan pergerakan dari level 5.828,68, kenaikan menuju area 5.900, hingga pencapaian 5.927,13 memperlihatkan adanya pemulihan bertahap sepanjang sesi perdagangan. Meskipun sempat terkoreksi dari posisi tertinggi harian, indeks tetap berakhir dekat dengan area pembukaan dan mempertahankan arah penguatan dibandingkan titik terendahnya.

Aktivitas perdagangan di pasar saham Indonesia pada akhir sesi I menunjukkan bahwa transaksi tetap berlangsung meskipun IHSG masih berada dalam tekanan. Hingga penutupan sesi tersebut, volume transaksi tercatat mencapai 217,03 juta lot. Angka ini menggambarkan jumlah perpindahan saham yang telah terjadi sepanjang perdagangan sesi I dan menjadi salah satu indikator untuk melihat intensitas aktivitas pasar.

Dari sisi nilai, transaksi saham membukukan total sebesar Rp5.608,26 miliar. Nilai tersebut melengkapi gambaran mengenai besarnya dana yang berpindah melalui perdagangan pada sesi I. Bersama dengan volume transaksi, data nilai perdagangan memberikan konteks terhadap pergerakan indeks yang terjadi hingga pasar memasuki jeda perdagangan berikutnya.

IHSG memang masih melemah pada penutupan sesi I. Namun, pelemahan tersebut telah berkurang secara signifikan dibandingkan posisi pada awal perdagangan. Dengan demikian, indeks sempat mengalami tekanan yang lebih besar pada awal sesi, kemudian bergerak membaik sehingga sebagian besar koreksi dapat dipangkas sebelum penutupan sesi I.

Perkembangan ini menunjukkan adanya perubahan arah pergerakan indeks selama sesi berlangsung, meskipun IHSG belum sepenuhnya keluar dari zona pelemahan. Data volume sebesar 217,03 juta lot dan nilai transaksi Rp5.608,26 miliar menjadi catatan penting untuk membaca kondisi pasar pada paruh pertama perdagangan. Keduanya memperlihatkan skala aktivitas transaksi ketika pelaku pasar menghadapi pergerakan indeks yang masih negatif, tetapi tidak lagi melemah sedalam posisi awal sesi.

Sejumlah faktor global menjadi perhatian pelaku pasar pada perdagangan Senin, 12 Oktober 2026. Salah satunya adalah serangan rudal dan drone kelompok Houthi dari Yaman terhadap Arab Saudi. Bandara Internasional Riyadh masih ditutup setelah serangan rudal pada Sabtu menewaskan 13 orang dan melukai lebih dari 300 orang. Perkembangan tersebut meningkatkan kewaspadaan terhadap stabilitas kawasan Timur Tengah.

Eskalasi konflik turut memunculkan kekhawatiran mengenai keamanan pasokan energi global. Houthi disebut juga menargetkan fasilitas minyak dan infrastruktur penting Arab Saudi, sehingga risiko gangguan terhadap produksi maupun distribusi minyak menjadi perhatian pasar. Iran menawarkan diri sebagai mediator Houthi dan Arab Saudi. Pada saat yang sama, Uni Emirat Arab menyerukan penguatan kerja sama keamanan di negara-negara Teluk.

Presiden Amerika Serikat Donald Trump menyatakan bahwa negaranya sedang mempertimbangkan kemungkinan bergabung dengan Arab Saudi. Namun, hingga perdagangan berlangsung, belum terdapat tanda-tanda pelaksanaan operasi militer Amerika Serikat. Ketidakpastian mengenai respons negara-negara terkait membuat perkembangan geopolitik tersebut terus dicermati investor, terutama karena Arab Saudi merupakan salah satu pemasok energi utama dunia.

Reaksi pasar juga terlihat dari kenaikan harga minyak setelah serangan tersebut. Harga minyak Brent meningkat US$1,93 atau 1,8% menjadi US$106,65 per barel. Sementara itu, minyak West Texas Intermediate (WTI) menguat US$1,89 atau 2% ke level US$93,74 per barel. Kenaikan harga komoditas energi itu menjadi salah satu sentimen eksternal yang diperhatikan pasar saham Indonesia.

Selain faktor geopolitik dan minyak, isu Morgan Stanley Capital International (MSCI) masih membayangi IHSG. Analis Phintraco Sekuritas Desy Erawati mengatakan pasar mencermati risiko penurunan status Indonesia dari emerging market menjadi frontier market. Pasar juga memperhatikan prospek pencabutan pembekuan sejumlah perubahan indeks MSCI yang diproyeksikan berlangsung pada semester II-2027.

Baca juga: IHSG Sesi I Mengalami Koreksi: Analisis dan Dinamika Pasar