Di Balik Pelantikan Kapolri, Suyudi Ario Seto Pernah Tampilkan Aksi Debus

Di Balik Pelantikan Kapolri, Suyudi Ario Seto Pernah Tampilkan Aksi Debus

KOTA SERANG, BANTEN — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 1 Oktober 2026, Jenderal Suyudi Ario Seto resmi dilantik sebagai Kepala Kepolisian Negara Republik Indonesia (Kapolri), menggantikan Jenderal Listyo Sigit Prabowo. Pelantikan tersebut berlangsung pada Kamis sore, 1 Oktober 2026. Pergantian pucuk pimpinan Polri ini menjadi informasi utama karena menandai dimulainya masa kepemimpinan baru di lingkungan institusi kepolisian.

Nama Suyudi Ario Seto kemudian tidak hanya diberitakan dalam konteks jabatan barunya sebagai Kapolri. Perhatian publik juga tertuju pada sisi lain dari sosok perwira tinggi tersebut, terutama karena ia pernah memperlihatkan kemampuan debus. Momen itu menjadi bagian menarik dari perjalanan pribadinya yang kembali disorot setelah pelantikan berlangsung.

Debus dikenal sebagai pertunjukan tradisional yang menampilkan atraksi ketahanan fisik dan kemampuan yang tampak tidak biasa. Karena itu, kemunculan kembali informasi mengenai aksi debus Suyudi memberikan sudut pandang berbeda di tengah pemberitaan tentang pengangkatannya sebagai orang nomor satu di Polri. Sorotan tersebut memperlihatkan bahwa pembahasan mengenai seorang pejabat publik kerap mencakup lebih dari sekadar posisi dan tanggung jawab resminya. Dalam pemberitaan kali ini, pelantikan pada Kamis sore, 1 Oktober 2026, menjadi titik awal untuk mengenal kembali sosok Suyudi Ario Seto, termasuk pengalaman yang pernah ia tampilkan di luar konteks tugas kepolisian. Namun, informasi utama tetap berkaitan dengan resminya ia menggantikan Listyo Sigit Prabowo sebagai Kapolri.

Saat masih menjabat sebagai Kapolda Banten dengan pangkat Inspektur Jenderal Polisi, Suyudi Ario Seto memperlihatkan aksi membengkokkan golok dalam peringatan HUT ke-79 Bhayangkara. Peristiwa tersebut berlangsung di Alun-Alun Kota Serang, Banten, pada 2025, di tengah rangkaian kegiatan peringatan hari ulang tahun Kepolisian Negara Republik Indonesia.

Aksi itu diawali ketika Suyudi mengambil sebilah golok dari seorang pria yang berada di dekatnya. Setelah menerima senjata tersebut, ia memainkannya sejenak di hadapan penonton. Golok kemudian ditempatkan di bagian belakang kepalanya. Dalam posisi itu, Suyudi menggunakan kedua tangannya untuk memberikan tekanan pada bilah golok.

Tekanan tersebut membuat bilah golok tampak membengkok. Dari rekaman yang beredar, bagian bilah terlihat melengkung dengan sudut sekitar 45 derajat. Aksi itu dilakukan dengan tangan kosong dan disaksikan oleh masyarakat serta peserta yang hadir di Alun-Alun Kota Serang. Setelah golok terlihat melengkung, penonton memberikan tepuk tangan sebagai respons terhadap atraksi tersebut.

Momen itu kemudian terdokumentasi dalam sebuah video yang diunggah di kanal YouTube Oshindy. Rekaman tersebut memperlihatkan urutan aksi Suyudi, mulai dari saat ia menerima golok, memainkan senjata itu, meletakkannya di belakang kepala, hingga membengkokkan bilahnya menggunakan tangan. Dokumentasi tersebut menjadi salah satu rekaman yang menampilkan Suyudi ketika menjalankan tugas sebagai Kapolda Banten dalam acara peringatan HUT ke-79 Bhayangkara pada 2025.

Aksi debus yang pernah ditampilkan Suyudi Ario Seto kemudian memunculkan pertanyaan dari sejumlah pihak dan awak media. Mereka ingin mengetahui kemampuan tersebut, termasuk latar belakang keterampilan bela diri yang dimilikinya. Menanggapi hal itu, Suyudi menjelaskan bahwa kemampuan tersebut tidak muncul secara tiba-tiba. Ia mempelajari bela diri sebagai bagian dari keterampilan yang dapat menunjang pelaksanaan tugas.

Menurut Suyudi, bela diri memiliki arti penting bagi anggota Polri. Keterampilan itu tidak hanya berkaitan dengan kemampuan menghadapi situasi berbahaya, tetapi juga menjadi bekal untuk menjaga keselamatan ketika menjalankan tanggung jawab di lapangan. Ia menilai setiap anggota kepolisian perlu memiliki kesiapan fisik dan mental agar dapat bertindak secara tepat dalam berbagai kondisi.

Dalam penjelasannya, Suyudi juga menekankan keterkaitan keterampilan tersebut dengan identitas masyarakat Banten. “Orang Banten harus bisa membela diri,” ujarnya, sebagaimana makna pernyataan yang disampaikannya. Ia kemudian mengaitkan hal itu dengan tanggung jawab insan Bhayangkara. Menurutnya, anggota Polri juga harus mempelajari bela diri karena tugas kepolisian menuntut kesiapan untuk melindungi diri dan orang lain.

Dorongan tersebut disampaikan agar anggota Polri tidak berhenti pada pengetahuan dasar, melainkan terus berlatih secara rutin. Latihan yang dilakukan dengan disiplin dapat membantu meningkatkan kemampuan, ketahanan, serta kepercayaan diri saat menjalankan tugas. Suyudi juga mengingatkan bahwa latihan bela diri memiliki tujuan yang lebih luas, yakni melindungi diri sekaligus menjaga marwah kesatuan. Dengan kemampuan yang terpelihara dan sikap yang bertanggung jawab, anggota Polri diharapkan mampu menjalankan tugas secara profesional tanpa mengabaikan kehormatan institusi.

Setelah resmi menjabat sebagai Kapolri, Suyudi Ario Seto menyampaikan bahwa langkah awal yang akan dilakukan adalah konsolidasi internal. Agenda ini dipandang penting untuk memastikan koordinasi di lingkungan Polri berjalan baik, baik pada tingkat pusat maupun kewilayahan. Konsolidasi tersebut juga menjadi ruang untuk menyamakan pemahaman mengenai tugas, tanggung jawab, serta prioritas kerja yang perlu dijalankan oleh seluruh jajaran.

Suyudi menegaskan bahwa kepemimpinannya akan tetap memperhatikan kesinambungan kebijakan yang telah ditempuh oleh pimpinan sebelumnya. Program dan langkah yang sudah berjalan tidak serta-merta dihentikan, melainkan akan ditinjau untuk melihat sejauh mana pelaksanaannya dapat diteruskan. Peninjauan itu mencakup berbagai agenda yang masih relevan, memiliki dasar pelaksanaan yang jelas, dan dinilai dapat memberikan manfaat bagi institusi maupun masyarakat.

Di samping melanjutkan kebijakan yang dinilai masih sesuai, Suyudi juga menyebut perlunya evaluasi internal. Evaluasi dilakukan untuk mengidentifikasi hal-hal yang masih perlu dibenahi, termasuk aspek pelaksanaan, koordinasi, dan efektivitas program. Hasil evaluasi tersebut akan menjadi bahan dalam menentukan langkah berikutnya, tanpa mengabaikan proses kerja yang telah dibangun sebelumnya. Dengan demikian, agenda awal setelah pelantikan berfokus pada konsolidasi, keberlanjutan kebijakan, serta perbaikan internal berdasarkan kebutuhan yang ditemukan di lapangan. Pernyataan itu menjadi penjelasan Suyudi mengenai rencana kerja terdekatnya setelah menerima amanah sebagai Kapolri, dengan penekanan pada proses penataan dan peninjauan secara bertahap.