JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 2 Oktober 2026, Presiden Prabowo Subianto memilih pengusaha Dato Sri Tahir sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres). Pelantikan tersebut berlangsung di Istana Negara, Jakarta, pada Jumat, 2 Oktober 2026. Tahir dilantik bersama anggota Wantimpres lainnya dalam sebuah prosesi kenegaraan yang menandai dimulainya tugasnya sebagai bagian dari lembaga pertimbangan presiden.
Penunjukan ini menempatkan nama Dato Sri Tahir dalam lingkup resmi pemerintahan nasional. Sebagai pengusaha, ia selama ini dikenal luas melalui aktivitasnya di dunia usaha. Namun, melalui pelantikan tersebut, perannya tidak hanya dicatat dalam konteks bisnis, melainkan juga sebagai anggota Wantimpres yang berada dalam struktur kelembagaan kepresidenan. Posisi itu menjadi babak baru dalam perjalanan publik Tahir.
Pelantikan di Istana Negara menjadi titik penting karena mengesahkan keterlibatan Tahir sebagai anggota Wantimpres pada pemerintahan Presiden Prabowo Subianto. Informasi mengenai peristiwa ini berfokus pada keputusan presiden dan pelaksanaan pelantikan yang berlangsung pada 2 Oktober 2026. Dengan demikian, Dato Sri Tahir resmi menjalankan kedudukan tersebut setelah menerima pelantikan bersama anggota Wantimpres lainnya di hadapan negara.
Setelah pelantikannya sebagai anggota Dewan Pertimbangan Presiden (Wantimpres), posisi ekonomi Dato Sri Tahir kembali menjadi perhatian publik. Berdasarkan data real-time Forbes per 2 Oktober 2026, kekayaan Tahir dan keluarga tercatat mencapai US$9,4 miliar. Angka tersebut mencerminkan nilai gabungan aset dan kepemilikan keluarga yang diperhitungkan dalam pemeringkatan kekayaan global Forbes pada tanggal tersebut.
Dengan menggunakan asumsi kurs Rp17.892 untuk setiap dolar AS, kekayaan sebesar US$9,4 miliar setara dengan sekitar Rp168,18 triliun. Perhitungan itu diperoleh dari konversi nilai dolar ke rupiah dan dapat berubah apabila kurs maupun estimasi nilai aset mengalami pergerakan. Karena itu, angka kekayaan yang tercantum dalam daftar Forbes sebaiknya dipahami sebagai estimasi pada waktu tertentu, bukan nilai kas yang seluruhnya tersedia secara langsung.
Forbes menempatkan Tahir dan keluarga di peringkat ke-383 orang terkaya di dunia per 2 Oktober 2026. Peringkat tersebut menunjukkan besarnya skala aset yang dikaitkan dengan keluarga Tahir dalam konteks ekonomi internasional. Posisi itu juga menempatkannya di kelompok individu dengan kekayaan terbesar secara global, meskipun urutan dapat berubah mengikuti dinamika pasar dan pembaruan data.
Sumber kekayaannya disebut berasal dari bisnis yang terdiversifikasi. Diversifikasi tersebut menjadi salah satu karakter penting dalam perjalanan ekonominya karena nilai kekayaan tidak bergantung pada satu bidang usaha saja. Forbes mengategorikan Tahir sebagai pengusaha self-made, atau pengusaha yang membangun kekayaan melalui kegiatan bisnisnya sendiri. Keterangan ini menegaskan bahwa pemeringkatan Forbes melihat Tahir sebagai figur yang mengembangkan aset dan usahanya melalui proses kewirausahaan, sekaligus memperhitungkan kepemilikan keluarga dalam total kekayaan yang dilaporkan.
Dato Sri Tahir dikenal sebagai pendiri Mayapada Group, sebuah konglomerasi yang mengembangkan kepentingan bisnis di berbagai sektor. Kelompok usaha ini tidak hanya bertumpu pada satu bidang, melainkan membangun portofolio yang mencakup perbankan, kesehatan, media, properti, pariwisata, dan ritel. Diversifikasi tersebut menjadi bagian penting dari jejak bisnis Tahir, sekaligus menjelaskan mengapa nama Mayapada kerap dikaitkan dengan sejumlah perusahaan besar di Indonesia.
Di sektor perbankan, salah satu bisnis utama grup adalah PT Bank Mayapada Internasional Tbk (MAYA). Bank ini menjadi kendaraan penting dalam ekspansi layanan keuangan keluarga Tahir. Di bidang kesehatan, PT Sejahteraraya Anugerahjaya Tbk (SRAJ) berperan sebagai pengelola jaringan Mayapada Hospital. Jaringan rumah sakit tersebut memperkuat posisi grup dalam industri layanan kesehatan dan menghadirkan kehadiran Mayapada di sejumlah kota besar.
Portofolio properti lain diwakili oleh PT Maha Properti Indonesia Tbk (MPRO), selain berbagai pengembangan real estat lain yang terkait dengan grup. Untuk sektor pariwisata dan ritel, PT Sona Topas Tourism Industry Tbk (SONA) menjadi salah satu perusahaan yang disebut dalam sumber. Keterlibatan Mayapada juga mencakup industri media melalui PT Berita Mediatama Indonesia, perusahaan yang menaungi Bloomberg Technoz. Kehadiran di bidang media memberi grup ruang dalam ekosistem informasi bisnis dan ekonomi.
Keluarga Tahir disebut memiliki kepemilikan pada sejumlah perusahaan tercatat, termasuk Bank Mayapada dan Maha Properti Indonesia. Kepemilikan tersebut memperlihatkan hubungan kekayaan keluarga, aset korporasi, dan perusahaan publik yang menjadi bagian dari portofolio grup. Di luar Indonesia, Forbes mencatat adanya sejumlah properti di Singapura yang dikaitkan dengan keluarga Tahir, termasuk kepemilikan melalui MYP, perusahaan properti tercatat. Dengan demikian, aset Mayapada mencerminkan kombinasi bisnis operasional, investasi di pasar modal, serta kepemilikan properti lintas negara.
Di luar kiprahnya sebagai pengusaha dan keterlibatannya dalam berbagai organisasi, Tahir dikenal memiliki latar belakang pribadi yang menjadi bagian penting dari profilnya. Ia berusia 74 tahun dan berdomisili di Jakarta. Dalam kehidupan keluarga, Tahir memiliki empat anak. Informasi tersebut melengkapi gambaran mengenai sosoknya, yang tidak hanya dikenal melalui aktivitas bisnis, tetapi juga melalui peran sosial dan keterlibatan dalam sejumlah lembaga.
Riwayat pendidikan Tahir mencakup gelar sarjana dari Nan Yang University. Setelah itu, ia memperoleh gelar Master of Business Administration dari Golden Gate University. Latar pendidikan tersebut menjadi salah satu unsur dalam perjalanan profesionalnya, terutama dalam mendukung aktivitasnya di bidang bisnis dan organisasi. Kedua institusi pendidikan itu tercatat sebagai bagian dari riwayat akademik Tahir sebagaimana tercantum dalam sumber.
Di bidang sosial, Tahir aktif melalui Tahir Foundation. Yayasan tersebut dipimpinnya bersama putranya, Jonathan Tahir, dan bergerak di bidang sosial. Keterlibatan ini menunjukkan perhatian Tahir terhadap aktivitas kemasyarakatan di luar kegiatan bisnisnya. Namun, rincian lebih lanjut mengenai program, periode pelaksanaan, maupun bentuk kegiatan yayasan tidak dicantumkan dalam bahan sumber.
Sepanjang perjalanan profesionalnya, Tahir juga pernah memegang sejumlah posisi dalam organisasi. Salah satunya adalah sebagai senior advisor Kementerian Koordinator Bidang Kesejahteraan Rakyat. Selain itu, ia terlibat dalam berbagai organisasi bisnis dan pendidikan. Rekam jejak tersebut memperlihatkan luasnya ruang kegiatan yang pernah dijalani, mulai dari dunia usaha, kelembagaan, hingga bidang pendidikan.
Dengan demikian, profil Tahir mencakup beberapa unsur yang saling melengkapi: pengalaman profesional, pendidikan, keluarga, dan aktivitas sosial. Usianya yang kini 74 tahun, domisilinya di Jakarta, serta statusnya sebagai ayah dari empat anak memberikan konteks personal. Sementara itu, pendidikan di Nan Yang University dan Golden Gate University, kepemimpinan bersama Jonathan Tahir di Tahir Foundation, serta keterlibatannya dalam organisasi bisnis dan pendidikan menjadi bagian dari rekam jejak yang tercatat dalam sumber.
