Bandung | Sergio van Dijk melihat adanya perubahan besar dalam permainan Persib Bandung pada musim ini. Menurut mantan penyerang tersebut, Persib yang sekarang memiliki karakter berbeda dibandingkan tim yang pernah ia bela sekitar 13 tahun lalu. Perbedaan itu tampak dari cara tim menjalankan permainan, terutama ketika membangun serangan dan mencari ruang untuk menciptakan peluang.
Pada musim ini, Persib ditangani Igor Tolic. Di bawah kepemimpinannya, tim menunjukkan pendekatan permainan yang tidak sama dengan skuad pada periode ketika Sergio masih mengenakan seragam Maung Bandung. Perubahan tersebut tidak hanya terlihat dalam susunan pemain, tetapi juga melalui proses tim saat mengembangkan serangan dari satu lini ke lini lainnya. Bola dimainkan dengan cara yang membuat Persib memiliki lebih banyak pilihan ketika berusaha mendekati area pertahanan lawan.
Pandangan Sergio menyoroti bahwa Persib kini tidak bergantung pada satu pola tertentu untuk menghasilkan ancaman. Variasi dalam membangun serangan membuat peluang dapat muncul melalui beberapa situasi permainan. Hal itu menjadi gambaran mengenai perubahan yang terjadi di dalam skuad, khususnya dalam cara para pemain bekerja sama untuk membuka ruang dan menciptakan kesempatan mencetak gol.
Perbandingan dengan Persib pada sekitar 13 tahun lalu menunjukkan bahwa tim telah melewati fase perubahan dalam gaya bermain. Persib saat ini tampil dengan mekanisme serangan yang berbeda, baik ketika mengawali penguasaan bola maupun saat mengubahnya menjadi peluang. Penilaian Sergio tersebut menggambarkan perkembangan pendekatan permainan Persib di bawah arahan Igor Tolic, tanpa mengesampingkan perbedaan konteks tim pada masa lalu dan skuad yang tampil pada musim ini.
Penilaian Sergio Van Dijk menunjukkan adanya perubahan penting dalam cara Persib membangun ancaman di depan gawang. Tim tidak lagi sepenuhnya bergantung pada striker utama untuk menyelesaikan setiap peluang. Tanggung jawab mencetak gol kini dapat dibagi kepada pemain dari berbagai lini, termasuk gelandang, pemain sayap, hingga bek yang ikut maju ketika situasi memungkinkan. Pola tersebut membuat lawan menghadapi lebih banyak sumber ancaman dan tidak mudah memusatkan penjagaan hanya kepada satu penyerang.
Menurut Sergio, variasi itu terutama terlihat ketika Persib mampu melancarkan serangan cepat. Setelah merebut bola, pemain segera mengalirkannya ke area depan dengan dukungan beberapa rekan setim. Dalam situasi semacam ini, pencetak gol tidak selalu merupakan pemain yang sejak awal berdiri paling dekat dengan kotak penalti. Gelandang yang mengikuti alur serangan atau pemain dari sisi lapangan dapat muncul pada waktu yang tepat untuk memanfaatkan ruang dan menyelesaikan peluang.
Pendekatan tersebut berbeda dari pola permainan yang pernah dijalani Sergio ketika memperkuat Persib. Pada masa itu, alur serangan lebih sering diarahkan kepada penyerang sebagai tumpuan utama. Striker diharapkan menahan bola, memenangkan duel, serta menjadi pemain terakhir yang menyelesaikan rangkaian serangan. Kini, pergerakan tim tampak lebih cair karena beberapa pemain dapat bertukar posisi dan mengambil peran ofensif sesuai perkembangan pertandingan.
Makna pernyataan Sergio bukan sekadar bahwa Persib memiliki lebih banyak pemain yang mampu mencetak gol. Ia juga menyoroti efektivitas skema serangan balik yang menghasilkan banyak gol. Kecepatan dalam transisi, ketepatan umpan pertama, dan keberanian pemain untuk ikut bergerak ke depan menjadi unsur penting dalam pola tersebut. Dengan demikian, produktivitas Persib tidak hanya ditentukan oleh ketajaman striker, tetapi juga oleh koordinasi seluruh tim saat mengubah pertahanan menjadi serangan. Variasi ini memberi Persib pilihan taktis yang lebih luas dan membuat strategi mereka lebih sulit dibaca oleh lawan.
Sergio Van Dijk pernah menjadi salah satu tumpuan utama Persib Bandung pada musim 2013/2014. Kehadirannya di lini depan memberikan dimensi berbeda bagi permainan Maung Bandung, terutama melalui kemampuan membaca ruang, mencari posisi di dalam kotak penalti, serta memanfaatkan peluang dengan penyelesaian akhir yang tenang. Penyerang berkepala pelontos itu tidak hanya berperan sebagai target serangan, tetapi juga menjadi sosok yang kerap menyita perhatian barisan pertahanan lawan.
Pada periode tersebut, Persib ditangani Djajang Nurdjaman, atau yang lebih dikenal dengan sapaan Djanur. Sang pelatih mempercayakan sektor depan kepada Sergio untuk memimpin serangan tim dalam persaingan Liga Super Indonesia. Kepercayaan itu sejalan dengan karakter permainan Sergio yang kuat dalam duel, mampu menahan bola, dan efektif ketika menerima umpan dari lini kedua maupun kedua sisi lapangan.
Produktivitas Sergio pada musim tersebut tercermin dari catatannya di kompetisi domestik. Ia mencetak 21 gol dari 29 penampilan di Liga Super Indonesia, sebuah torehan yang menempatkannya sebagai salah satu penyerang paling tajam yang pernah dimiliki Persib pada masa itu. Jumlah tersebut juga menunjukkan besarnya kontribusi Sergio terhadap performa tim, baik melalui gol pembuka, penyelesaian peluang, maupun ancaman yang terus diberikan kepada lawan sepanjang pertandingan.
Peran itu membuat nama Sergio Van Dijk melekat kuat dalam ingatan pendukung Persib. Ia menjadi bagian penting dari skema Djanur dan salah satu rujukan ketika membicarakan penyerang produktif di tubuh tim Bandung. Pengalamannya pada musim 2013/2014 kemudian menjadi landasan yang relevan saat ia menilai perkembangan Persib, termasuk perubahan pola serangan dan semakin beragamnya pemain yang mampu mencetak gol.
Sergio Van Dijk menilai Persib saat ini memiliki cara yang lebih beragam untuk mencetak gol. Penilaian tersebut ia sampaikan di Bandung pada Minggu (11/10), ketika membandingkan karakter permainan tim sekarang dengan perannya sebagai penyerang pada masa lalu. Menurut Sergio, dirinya dahulu lebih dikenal sebagai striker murni yang berfokus berada di area depan dan menunggu peluang untuk menuntaskan serangan.
Perbedaan itu, kata Sergio, terlihat dari pola Persib yang tidak lagi bergantung pada satu tipe pemain atau satu skema serangan. Setiap pemain dapat mengambil peran berbeda sesuai situasi pertandingan. Pergerakan dari lini tengah, dukungan pemain sayap, serta kemampuan memanfaatkan ruang membuat serangan Persib menjadi lebih variatif dan sulit dibaca lawan.
Dalam pertandingan terakhir, Sergio juga melihat Persib mampu menggunakan counter attack sebagai salah satu pilihan penting. Ketika berhasil merebut bola, skuad dapat bergerak cepat menuju pertahanan lawan sebelum organisasi permainan lawan kembali terbentuk. Kecepatan transisi tersebut membuka ruang bagi pemain di depan sekaligus memberi alternatif selain membangun serangan secara perlahan dari lini belakang.
Gambaran itu berbeda dengan gaya yang melekat pada Sergio ketika masih bermain. Sebagai striker murni, ia lebih banyak menjalankan tugas utama sebagai penyelesai akhir. Sementara itu, Persib sekarang menunjukkan permainan yang lebih kolektif, dengan kontribusi gol yang dapat datang dari beberapa posisi dan melalui berbagai situasi.
Penilaian Sergio menegaskan bahwa perubahan gaya bermain Persib tidak hanya terlihat dari hasil akhir serangan, tetapi juga dari proses untuk menciptakan peluang. Pemanfaatan counter attack dalam laga terakhir menjadi contoh bagaimana tim menyesuaikan pendekatan dengan keadaan pertandingan. Bagi Sergio, variasi tersebut memperlihatkan kualitas skuad Persib yang mampu menggunakan lebih dari satu cara ketika berusaha mencetak gol.

