Jakarta | Doddy Katamsi masih menjalani aktivitas bermusik sebelum kondisi kesehatannya memburuk. Vokalis Elpamas itu disebut tetap memenuhi jadwal manggung, menunjukkan bahwa ia masih aktif berkarya bersama rekan-rekannya. Penampilan tersebut berlangsung beberapa hari sebelum ia akhirnya dibawa ke rumah sakit. Kabar ini memberi gambaran mengenai kesibukan Doddy menjelang masa perawatan, sekaligus menjadi salah satu informasi yang disampaikan keluarga setelah kepergiannya.
Keterangan mengenai kronologi itu disampaikan oleh adiknya, Aning Katamsi. Seusai pemakaman sang kakak, Aning menjelaskan bahwa Doddy sempat tampil dalam sebuah agenda bermusik, lalu dilarikan ke rumah sakit pada 1 September 2026. Jarak beberapa hari penampilan dan perawatan menunjukkan bahwa Doddy masih berusaha menjalankan komitmen profesionalnya sebelum kesehatannya memerlukan penanganan medis. Keluarga tidak hanya mengenang dirinya sebagai musisi, tetapi juga sebagai sosok yang tetap berupaya hadir memenuhi tanggung jawab.
Aning menyampaikan informasi tersebut pada 16 Oktober, setelah prosesi pemakaman Doddy di Pemakaman Yayasan Bina Pusara, Pondok Labu, Jakarta Selatan. Keterangan itu memberikan konteks tentang aktivitas terakhir sang vokalis sebelum dirawat. Di tengah perhatian publik terhadap kondisi Doddy, kabar bahwa ia sempat memenuhi jadwal tampil menjadi bagian penting dalam mengenang perjalanan terakhirnya. Namun, detail mengenai pertunjukan maupun perubahan kondisi kesehatannya tidak diuraikan lebih jauh dalam keterangan tersebut.
Perjalanan Doddy memperlihatkan keterikatannya yang kuat dengan musik dan panggung. Sebagai vokalis Elpamas, ia dikenal melalui kiprahnya dalam dunia musik, dan aktivitas manggung tetap menjadi bagian dari kesehariannya hingga menjelang perawatan. Informasi dari Aning membantu meluruskan urutan waktu: Doddy tampil terlebih dahulu, kemudian dibawa ke rumah sakit pada awal September. Cerita itu disampaikan seusai keluarga mengantarnya ke tempat peristirahatan terakhir, lebih dari sebulan setelah tanggal ia mulai dirawat.
Doddy Katamsi meninggal dunia pada 15 Oktober 2026 setelah menjalani perawatan intensif selama 45 hari. Ia mengembuskan napas terakhir pada pukul 13.15 WIB di Rumah Sakit Universitas Indonesia (RSUI), Depok. Masa perawatan panjang tersebut berlangsung dalam kondisi kesehatan yang tidak stabil, dengan komplikasi penyakit jantung dan gagal ginjal menjadi bagian utama dari persoalan medis yang dihadapi.
Selama dirawat, keadaan Doddy disebut mengalami pasang surut. Kondisi yang berubah-ubah membuat penanganan medis harus mempertimbangkan perkembangan kesehatannya dari waktu ke waktu. Komplikasi yang menyertai penyakit jantung dan gangguan ginjal turut memengaruhi keputusan serta langkah perawatan. Karena itu, proses pemulihan tidak berjalan sederhana dan membutuhkan pemantauan intensif oleh tim medis.
Perawatan selama 45 hari tersebut menggambarkan beratnya situasi yang harus dihadapi Doddy dan keluarga. Dalam keadaan dengan beberapa komplikasi, setiap tindakan perlu disesuaikan dengan kondisi pasien, termasuk kemampuan tubuh untuk menjalani prosedur tertentu. Penanganan penyakit jantung juga berkaitan dengan kondisi organ lain, sehingga dokter perlu menilai berbagai pertimbangan secara menyeluruh. Informasi yang tersedia menyebut kondisi yang naik turun sebagai salah satu faktor penting selama masa perawatan.
Kabar meninggalnya Doddy menandai akhir dari perjuangan panjang di rumah sakit. Ia wafat di RSUI setelah mendapatkan perawatan intensif, dengan komplikasi jantung dan gagal ginjal yang memengaruhi perjalanan kesehatannya. Waktu kepergiannya, yakni pukul 13.15 WIB pada 15 Oktober 2026, menjadi informasi yang menyertai kabar duka tersebut. Masa perawatan yang berlangsung lebih dari satu bulan juga menunjukkan bahwa kondisi Doddy memerlukan perhatian medis berkelanjutan hingga akhir hayatnya.
Meski menjalani perawatan dalam jangka panjang, kondisi Doddy tidak selalu berada pada tingkat yang sama. Perubahan tersebut menjadi tantangan dalam menentukan penanganan yang tepat, terutama ketika komplikasi berdampak pada beberapa aspek kesehatannya sekaligus. Perawatan intensif ditujukan untuk memantau dan menangani perkembangan kondisi, tetapi situasi medis yang kompleks tetap membawa risiko. Pada akhirnya, setelah 45 hari dirawat, Doddy meninggal dunia di Depok, meninggalkan duka bagi keluarga, kerabat, dan orang-orang yang mengenalnya.
Operasi bypass jantung sempat dipertimbangkan sebagai salah satu langkah untuk menangani masalah jantung yang dialami Doddy Katamsi. Rencana tersebut muncul dalam rangkaian penanganan medisnya, tetapi keputusan akhir tidak ditetapkan begitu saja. Tim medis terlebih dahulu melakukan pemeriksaan dan observasi terhadap kondisi tubuhnya dalam waktu yang panjang untuk menilai apakah prosedur itu dapat dijalankan.
Setelah menjalani pemeriksaan dan observasi tersebut, tim medis menilai kondisi tubuh Doddy belum mendukung pelaksanaan operasi bypass. Pertimbangan utamanya berkaitan dengan risiko yang dinilai dapat muncul selama prosedur berlangsung maupun setelah operasi. Atas penilaian itu, rencana bypass yang sebelumnya sempat dipertimbangkan tidak dilanjutkan. Keterangan keluarga menyebutkan bahwa keputusan tersebut diambil berdasarkan kondisi yang diamati oleh tim medis.
Informasi mengenai batalnya rencana operasi itu disampaikan oleh keluarga melalui akun Instagram @chikatamsi_ pada 23 September 2026. Dalam keterangannya, keluarga menjelaskan bahwa bypass jantung sempat menjadi pertimbangan, tetapi kondisi Doddy setelah pemeriksaan dan observasi panjang dinilai tidak mendukung tindakan tersebut. Penjelasan itu menegaskan adanya kekhawatiran terhadap risiko selama dan sesudah operasi, tanpa menyampaikan alasan lain di luar pertimbangan medis tersebut.
Dengan demikian, keputusan untuk tidak melanjutkan bypass berkaitan dengan hasil evaluasi terhadap kondisi tubuh Doddy, bukan karena prosedur itu tidak pernah dipertimbangkan. Pemeriksaan dan observasi menjadi bagian penting sebelum tim medis menentukan langkah yang dinilai sesuai. Keluarga menyampaikan perkembangan tersebut kepada publik melalui media sosial, sehingga informasi mengenai rencana bypass yang batal berasal dari keterangan mereka. Rencana operasi yang sempat dibicarakan pun tidak diteruskan setelah penilaian medis menunjukkan bahwa tubuh Doddy tidak mendukung prosedur berisiko tersebut, baik pada saat tindakan maupun dalam masa setelahnya.
Dalam mempertimbangkan penanganan masalah jantung Doddy Katamsi, pemasangan ring atau stent sempat dipikirkan sebagai salah satu opsi. Tindakan ini dapat membantu membuka pembuluh darah yang menyempit, tetapi keputusan untuk melakukannya bergantung pada kondisi pasien secara keseluruhan. Dokter perlu menilai manfaat yang mungkin diperoleh, risiko prosedur, serta penyakit lain yang menyertai. Pada Doddy, gangguan fungsi ginjal menjadi salah satu faktor penting dalam pembahasan pilihan tersebut. Karena itu, penanganan tidak dapat ditentukan hanya berdasarkan kondisi jantung, melainkan perlu mempertimbangkan keadaan organ lain dan kebutuhan perawatannya. Pertimbangan medis semacam ini juga dapat berubah seiring perkembangan kondisi pasien selama menjalani perawatan.
Sejumlah prosedur jantung, termasuk pemeriksaan atau tindakan tertentu yang berkaitan dengan pemasangan stent, dapat melibatkan zat kontras untuk membantu melihat pembuluh darah dengan lebih jelas. Zat tersebut umumnya dikeluarkan dari tubuh melalui ginjal. Pada orang dengan fungsi ginjal yang terganggu, proses pembuangannya dapat berlangsung lebih sulit, sehingga penggunaannya memerlukan perhatian dan penilaian medis. Hal ini bukan berarti zat kontras selalu tidak dapat digunakan, tetapi tim dokter perlu mempertimbangkan kondisi ginjal, urgensi tindakan, serta kemungkinan risiko dan langkah pencegahan. Informasi mengenai fungsi ginjal dapat membantu menentukan apakah prosedur tersebut sesuai, atau apakah pendekatan lain lebih tepat bagi pasien.
Doddy juga dilaporkan rutin menjalani cuci darah, perawatan yang membantu menggantikan sebagian fungsi ginjal dalam menyaring limbah dan kelebihan cairan. Selain persoalan ginjal dan jantung, selama perawatan ia dilaporkan mengalami delirium. Delirium merupakan gangguan kesadaran akut yang dapat muncul dengan perubahan perhatian dan kemampuan memahami keadaan sekitar. Gejalanya bisa berupa kebingungan, kesulitan mengenali lingkungan, perubahan tingkat kewaspadaan, atau halusinasi.
Baca juga: Strategi BPJS Kesehatan dalam Menangani Penyakit Jantung | Sidang Perdana Kasus Korupsi Perjalanan Dinas Fiktif di Kementan | Profil Suahasil Nazara: Perjalanan Menuju Kursi Menteri Keuangan






