Jakarta | Puluhan wisatawan kedapatan berada di lereng Gunung Anak Krakatau, Lampung Selatan, dalam sebuah aktivitas yang terekam kamera. Mereka terlihat mengambil foto dan merekam video di kawasan yang semestinya tidak dimasuki oleh masyarakat umum. Kehadiran rombongan tersebut menjadi perhatian karena lokasi itu termasuk wilayah terlarang di sekitar gunung api yang masih aktif dan memiliki potensi bahaya.
Rekaman yang beredar memperlihatkan sejumlah orang beraktivitas di area lereng dengan latar bentang alam vulkanik. Informasi mengenai waktu pengambilan gambar, jalur yang digunakan, serta pihak yang membawa rombongan itu belum diketahui secara lengkap. Demikian pula, identitas dan asal para wisatawan tersebut masih belum terungkap. Karena itu, keterangan mengenai jumlah mereka maupun rangkaian kejadian perlu menunggu verifikasi dari pihak berwenang.
Aktivitas tersebut terlihat berkaitan dengan upaya memperoleh pengalaman atau menghasilkan foto dan video dari lokasi yang tidak biasa. Namun, hal itu belum dapat dipastikan sebagai motif rombongan. Memasuki kawasan terlarang tetap berisiko, terutama karena kondisi Gunung Anak Krakatau dapat berubah dan aktivitas vulkaniknya dipantau secara berkala. Selain ancaman letusan, pengunjung juga dapat menghadapi material vulkanik, gas berbahaya, gelombang laut, atau perubahan medan yang sulit diprediksi. Peristiwa ini kembali menyoroti pentingnya mematuhi batas aman dan arahan petugas ketika berada di sekitar gunung api aktif.
Keberadaan wisatawan di lereng Gunung Anak Krakatau diketahui ketika petugas Pos Pantau Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) melaksanakan pemeliharaan berkala terhadap peralatan pemantauan pada awal Oktober 2026. Kegiatan tersebut merupakan bagian dari upaya memastikan perangkat pemantauan tetap berfungsi sebagaimana mestinya.
Saat menjalankan pemeliharaan, petugas melihat adanya rombongan wisatawan yang berada di lereng gunung. Mereka tampak melakukan swafoto dan merekam video di kawasan tersebut. Aktivitas itu membuat keberadaan mereka diketahui oleh petugas yang sedang bekerja di sekitar peralatan pemantauan.
Temuan tersebut menunjukkan bahwa sejumlah wisatawan telah memasuki area lereng Gunung Anak Krakatau. Petugas kemudian menyadari keberadaan rombongan itu, sementara para wisatawan juga mengetahui bahwa aktivitas mereka terlihat. Setelah kehadiran petugas disadari, wisatawan tersebut turun dari lereng secara berbondong-bondong.
Peristiwa itu terungkap secara langsung dalam pelaksanaan pemeliharaan rutin, bukan melalui laporan terpisah. Pada saat petugas melakukan pemeriksaan dan perawatan peralatan, mereka mendapati wisatawan sedang menggunakan kawasan lereng sebagai lokasi untuk mengambil gambar dan video. Selanjutnya, rombongan meninggalkan lereng dengan turun bersama-sama setelah melihat petugas di lokasi.
Rangkaian kejadian tersebut menjadi dasar diketahui adanya aktivitas wisatawan di lereng Gunung Anak Krakatau pada awal Oktober 2026. Informasi yang terlihat oleh petugas berkaitan dengan kegiatan pemeliharaan peralatan, keberadaan rombongan, aktivitas swafoto serta perekaman video, dan tindakan mereka turun setelah menyadari kehadiran petugas.
Kepala Pos Pantau Gunung Anak Krakatau Lampung Selatan, Andi Suwardi, membenarkan adanya aktivitas wisatawan di kawasan Gunung Anak Krakatau. Keterangan tersebut disampaikan terkait informasi mengenai puluhan wisatawan yang diduga memasuki lereng gunung untuk mengambil foto dan video. Namun, keberadaan mereka di area tersebut tidak serta-merta menjelaskan jalur yang digunakan untuk mencapai kawasan gunung. Informasi mengenai akses rombongan masih berada pada tahap dugaan dan belum disampaikan sebagai fakta yang telah terverifikasi.
Andi Suwardi menduga rombongan wisatawan kemungkinan menyewa kapal dari Dermaga Canti menuju Pulau Sebesi. Dari kawasan tersebut, mereka diduga menerobos masuk ke area Gunung Anak Krakatau. Dugaan ini menggambarkan kemungkinan jalur yang ditempuh rombongan, tetapi belum dapat dipastikan sebagai rute yang benar-benar digunakan. Karena itu, penyebutan Dermaga Canti dan Pulau Sebesi perlu dipahami sebagai bagian dari perkiraan berdasarkan keterangan yang tersedia, bukan sebagai hasil konfirmasi langsung mengenai perjalanan para wisatawan.
Keterangan tersebut juga belum merinci bagaimana rombongan dapat mencapai lereng Gunung Anak Krakatau atau pihak yang mengatur perjalanan mereka. Andi hanya menyampaikan dugaan mengenai kemungkinan penyewaan kapal dan akses lanjutan menuju kawasan gunung. Dengan demikian, aktivitas wisatawan memang telah dibenarkan keberadaannya, sedangkan asal keberangkatan, jalur pelayaran, serta proses mereka memasuki kawasan tersebut masih memerlukan verifikasi lebih lanjut. Penegasan mengenai status informasi ini penting agar dugaan akses dari Dermaga Canti tidak diperlakukan sebagai kronologi yang sudah terbukti.
Keputusan puluhan wisatawan memasuki lereng Anak Krakatau untuk mengambil foto dan video menjadi persoalan serius karena kawasan tersebut berada di sekitar gunung api aktif. Kondisi gunung api tidak selalu dapat diperkirakan hanya dari penampakan permukaan atau suasana yang tampak tenang. Aktivitasnya dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga lingkungan yang terlihat aman pada satu kesempatan belum tentu memiliki tingkat risiko yang sama beberapa saat kemudian. Ancaman dapat berkaitan dengan perubahan aktivitas vulkanik maupun kondisi medan yang sulit dipantau secara langsung oleh pengunjung.
Memasuki kawasan terlarang juga membuat wisatawan berada lebih dekat dengan sumber potensi bahaya tanpa kepastian bahwa seluruh situasi telah dinilai aman oleh pihak berwenang. Lereng gunung api memiliki karakter medan yang tidak mudah dipahami, sementara perubahan cuaca, material vulkanik, dan aktivitas kawah dapat menambah kerentanan orang yang berada di dalamnya. Karena itu, keinginan memperoleh gambar dari lokasi yang tidak biasa tidak sebanding dengan risiko keselamatan yang mungkin muncul ketika batas aman diabaikan.
Belum ada keterangan yang memastikan alasan para wisatawan melakukan aksi tersebut. Mereka memang tampak mengejar pengalaman unik, dokumentasi pribadi, atau bahan untuk dibagikan melalui media sosial, tetapi dugaan itu belum dapat diperlakukan sebagai penjelasan resmi. Apa pun dorongannya, keberadaan mereka di lereng Anak Krakatau tetap menunjukkan pentingnya mematuhi ketentuan kawasan dan memperhatikan informasi keselamatan. Gunung Anak Krakatau merupakan gunung api aktif dengan aktivitas yang dapat berubah sewaktu-waktu, sehingga memasuki area terlarang untuk mendapatkan foto atau video membawa risiko yang tidak dapat dianggap ringan.
Baca juga: TNI Perkuat Pemantauan Aktivitas Gunung Anak Krakatau dan Pencarian Lima Jurnalis di Selat Sunda | Aktivitas Gunung Anak Krakatau: Status Terbaru dan Dampaknya | Kehilangan Jurnalis dalam Peliputan Erupsi Anak Krakatau

