Jakarta | Menteri Koordinator Bidang Hilirisasi dan Transisi Energi sekaligus Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, mengungkapkan bahwa pemerintah Indonesia sedang melakukan diplomasi dengan sejumlah negara untuk memperoleh pasokan minyak mentah. Upaya tersebut dilakukan di tengah kebutuhan untuk menjaga ketersediaan bahan baku energi nasional dan membuka lebih banyak pilihan sumber pasokan dari luar negeri.
Menurut Bahlil, pendekatan itu tidak hanya diarahkan kepada negara-negara di kawasan tertentu, tetapi juga mencakup sejumlah negara di Afrika. Wilayah tersebut dipandang sebagai salah satu ruang yang dapat dijajaki untuk membangun kerja sama pasokan minyak mentah ke Indonesia. Pemerintah, kata dia, terus berupaya mencari peluang melalui komunikasi dan pertemuan dengan pihak-pihak yang memiliki kapasitas produksi serta kemungkinan untuk mengirimkan minyak ke Indonesia.
Dalam menceritakan proses lobi tersebut, Bahlil menyoroti pendekatan personal yang digunakannya ketika bertemu dengan pihak dari Afrika. Ia mengatakan berusaha membangun kesan persaudaraan dalam pertemuan itu dengan menyinggung kesamaan warna kulit. Pernyataan tersebut disampaikan sebagai bagian dari cerita Bahlil mengenai cara membangun kedekatan dan komunikasi ketika melakukan pendekatan diplomatik kepada calon mitra.
Ia tidak merinci seluruh negara yang telah diajak berkomunikasi maupun besaran pasokan yang berpotensi dikirimkan ke Indonesia. Namun, keterlibatan Afrika dalam penjajakan tersebut menunjukkan bahwa pemerintah sedang memperluas jaringan diplomasi energi. Langkah itu menjadi bagian dari upaya mencari sumber minyak mentah alternatif sekaligus menjajaki kemungkinan kerja sama baru dengan negara-negara penghasil energi.
Pemerintah perlu aktif mencari sumber minyak mentah dari berbagai negara untuk menjaga kesinambungan pasokan energi nasional. Langkah tersebut diperlukan karena kondisi geopolitik dunia masih bergerak dinamis dan belum menunjukkan kepastian akan segera mereda. Ketergantungan pada sumber pasokan yang terbatas dapat meningkatkan risiko apabila terjadi gangguan politik, konflik, atau perubahan kebijakan di negara penghasil minyak. Karena itu, diplomasi energi menjadi bagian penting dalam mengantisipasi kemungkinan perubahan arus perdagangan minyak mentah.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa belum ada kepastian mengenai kapan ketegangan geopolitik dunia akan berakhir. Dalam keterangannya, ia mengaitkan situasi tersebut dengan ketegangan yang melibatkan Iran, Amerika, dan Israel. Ia juga menyebut Haiti yang masuk ke Arab Saudi sebagaimana terdapat dalam sumber. Pernyataan itu menggambarkan adanya perkembangan geopolitik yang dinilai perlu dicermati karena dapat memengaruhi hubungan antarnegara serta jalur distribusi komoditas energi.
Menurut Bahlil, perkembangan geopolitik tersebut berpotensi memperburuk arus logistik dan ketahanan energi dunia. Gangguan pada jalur pengiriman dapat memperpanjang waktu distribusi, meningkatkan biaya transportasi, dan menyulitkan negara-negara konsumen memperoleh minyak mentah secara stabil. Dampaknya tidak hanya berkaitan dengan ketersediaan bahan baku bagi kilang, tetapi juga dapat merembet pada pasokan bahan bakar dan aktivitas ekonomi yang bergantung pada energi.
Dalam kondisi seperti itu, pemerintah tidak dapat hanya menunggu perkembangan situasi internasional. Upaya mencari pasokan dari sejumlah negara menjadi bentuk antisipasi terhadap risiko yang sulit diperkirakan. Diversifikasi sumber minyak mentah dapat memberi ruang bagi Indonesia untuk menyesuaikan rencana pengadaan apabila salah satu jalur atau negara pemasok mengalami hambatan. Namun, Bahlil menegaskan bahwa tidak ada pihak yang dapat meramalkan perkembangan geopolitik secara pasti. Oleh sebab itu, penguatan diplomasi dan pemantauan situasi global perlu dilakukan secara berkelanjutan untuk menjaga ketahanan energi.
Situasi geopolitik yang berkembang di kawasan penghasil dan jalur perdagangan energi berdampak langsung terhadap sumber impor minyak mentah Indonesia. Ketegangan di wilayah strategis dapat menghambat distribusi, memperpanjang waktu pengiriman, serta meningkatkan ketidakpastian bagi negara yang bergantung pada pasokan dari luar negeri. Kondisi tersebut membuat pemerintah perlu mencermati kembali jalur lama yang selama ini mendukung kebutuhan minyak mentah nasional. Pasokan yang sebelumnya berasal dari kawasan Arab Saudi memiliki porsi besar dalam sumber impor Indonesia. Namun, gangguan geopolitik di kawasan tersebut berpotensi memengaruhi kelancaran distribusinya, sehingga diperlukan langkah antisipatif agar ketersediaan energi tetap terjaga.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia menyampaikan bahwa sebelumnya sekitar 23 persen minyak mentah Indonesia berasal dari Selat Hormuz. Pernyataan itu menggambarkan pentingnya jalur tersebut bagi kesinambungan pasokan minyak nasional. Ketika situasi kembali mengalami gangguan, risiko terhadap arus distribusi pun meningkat. Bahlil juga menyebut kondisi yang kembali terjadi di Arab Saudi sebagai alasan pemerintah perlu mencari sumber impor lain. Langkah tersebut bukan semata-mata perubahan kebijakan perdagangan, melainkan bagian dari upaya mengurangi dampak gangguan pada jalur pasokan yang telah digunakan sebelumnya.
Dalam situasi demikian, pemerintah dituntut untuk menjaga fleksibilitas diplomasi energi. Bahlil mengakui bahwa Menteri ESDM harus terus melakukan lobi minyak di berbagai tempat untuk memastikan ketersediaan pasokan bagi Indonesia. Lobi tersebut menjadi instrumen penting dalam merespons perubahan geopolitik, terutama ketika jalur distribusi tradisional menghadapi tekanan. Melalui komunikasi dan penjajakan diplomatik, pemerintah berupaya memastikan kebutuhan minyak mentah tetap dapat dipenuhi secara berkelanjutan. Upaya mencari alternatif juga menunjukkan bahwa keamanan energi tidak hanya bergantung pada ketersediaan komoditas, tetapi turut dipengaruhi stabilitas kawasan, keandalan jalur transportasi, dan kemampuan pemerintah membangun hubungan dengan berbagai pihak.
Pemerintah Indonesia membuka kemungkinan membeli minyak mentah dari Arab Saudi setelah negara tersebut memberikan potongan harga untuk pasar Asia pada periode November 2026. Peluang itu muncul karena Indonesia masih membutuhkan pasokan minyak mentah dari luar negeri untuk memenuhi kebutuhan energi nasional. Namun, pembelian tersebut belum menjadi keputusan final. Pemerintah akan mempertimbangkan efisiensi bagi negara serta memastikan setiap langkah sesuai dengan regulasi yang berlaku.
Arab Saudi secara tak terduga menurunkan harga minyak mentah untuk pasar Asia, sementara harga bagi kawasan Eropa Barat Laut dan Mediterania justru dinaikkan. Berdasarkan dokumen penetapan harga bertanggal 5 Oktober 2026, harga jual resmi minyak mentah Arab Saudi untuk pasar Asia ditetapkan sebesar US$5 per barel di bawah rata-rata harga minyak Oman dan Dubai. Nilai tersebut turun US$3 per barel dibandingkan harga pada bulan sebelumnya. Diskon itu disebut sebagai yang terbesar sejak Juni 2020.
Saudi Aramco juga memangkas harga sebesar US$5 per barel untuk minyak mentah dengan karakteristik lebih berat, yakni Arab Medium dan Arab Heavy, yang dipasarkan ke Asia. Rincian tersebut menjadi bagian dari informasi harga yang menjadi dasar pembahasan mengenai peluang pengadaan minyak mentah dari Arab Saudi. Meski demikian, pemerintah tetap perlu menilai kebutuhan pasokan, efisiensi biaya bagi negara, serta kepatuhan terhadap ketentuan dan prosedur yang berlaku sebelum mengambil keputusan. Seluruh angka dan rincian harga tersebut merujuk pada dokumen penetapan harga 5 Oktober 2026 dan data yang tersedia dalam bahan terkait.
Baca juga: Meningkatkan Diplomasi Budaya Melalui Program Pembelajaran Seni

