Jakarta | Raja Inggris Charles III memperingatkan bahwa disinformasi dan aktivitas berbahaya di dunia maya berpotensi mengikis kepercayaan publik sekaligus mengancam keamanan pada era digital. Peringatan tersebut menyoroti perubahan lanskap ancaman, ketika informasi palsu dapat menyebar luas dalam waktu singkat dan memengaruhi cara masyarakat memahami peristiwa, institusi, maupun kebijakan. Jika dibiarkan, kondisi ini dapat memperlemah kohesi sosial serta mengganggu kepercayaan terhadap lembaga negara dan sistem demokrasi.
Charles menyampaikan pandangan itu melalui surat kepada National Cyber Security Centre (NCSC) dalam rangka memperingati 10 tahun berdirinya lembaga tersebut. NCSC merupakan bagian penting dari upaya Inggris dalam melindungi infrastruktur digital, organisasi publik, dunia usaha, dan masyarakat dari berbagai bentuk serangan siber. Dalam pesannya, Raja menekankan bahwa ancaman tidak hanya berasal dari serangan langsung terhadap sistem komputer, tetapi juga dari kampanye manipulasi informasi dan kegiatan daring yang dirancang untuk menciptakan ketidakstabilan.
Para pelaku kejahatan siber terus mengembangkan taktik dengan memanfaatkan teknologi otomatis, termasuk kecerdasan buatan. Teknologi tersebut dapat membantu menghasilkan pesan palsu, meniru identitas, memperbanyak konten berbahaya, serta menemukan kelemahan sistem dengan kecepatan dan skala yang lebih besar. Perkembangan ini membuat upaya perlindungan harus dilakukan secara berkelanjutan, melalui peningkatan kemampuan teknis, kerja sama lintas negara, dan pemahaman publik mengenai risiko digital.
Menurut Charles, keamanan siber yang kuat diperlukan untuk menghadapi ancaman terhadap tatanan internasional. Namun, ia juga menekankan perlunya menyeimbangkan risiko dan peluang yang muncul dari teknologi baru. Pesan tersebut merangkum kebutuhan untuk menciptakan lingkungan daring yang lebih aman dan tangguh, sehingga inovasi tetap dapat berkembang tanpa mengorbankan kepercayaan, keselamatan, serta stabilitas masyarakat. Peringatan itu sekaligus menegaskan bahwa keamanan digital merupakan tanggung jawab bersama, bukan semata-mata tugas lembaga pemerintah atau pakar teknologi.
Raja Charles III menyampaikan penghargaan kepada National Cyber Security Centre (NCSC) atas pencapaiannya selama satu dekade dalam melindungi Inggris dari ancaman siber. Menurutnya, lembaga tersebut memainkan peran penting dalam menjaga keamanan institusi demokrasi, termasuk proses pemerintahan dan layanan publik yang menjadi dasar kehidupan bernegara. NCSC juga berkontribusi mengamankan infrastruktur penting, seperti jaringan energi, layanan kesehatan, sistem transportasi, serta sarana komunikasi yang digunakan masyarakat setiap hari.
Charles menilai keberhasilan NCSC tidak hanya terlihat dari kemampuannya merespons serangan, tetapi juga dari upayanya membangun ketahanan digital dalam berbagai lapisan kehidupan. Ketahanan itu mencakup layanan publik, dunia usaha, dan komunitas, sehingga organisasi maupun warga memiliki kesiapan lebih baik dalam menghadapi perubahan teknologi. Di tengah meningkatnya ketergantungan pada sistem digital, kemampuan untuk mencegah gangguan, mengelola risiko, dan memulihkan layanan menjadi semakin penting. NCSC dinilai telah membantu masyarakat memahami tantangan tersebut sekaligus memperkuat perlindungan terhadap sistem yang menopang perekonomian dan kehidupan sosial.
Raja Charles juga mengakui bahwa sebagian besar pekerjaan NCSC tidak dapat dipublikasikan atau memperoleh pengakuan terbuka. Banyak operasi dan langkah perlindungan harus dirahasiakan demi menjaga efektivitasnya serta mencegah pihak yang bermusuhan memperoleh informasi. Karena itu, ia menyampaikan terima kasih atas dedikasi seluruh personel lembaga tersebut dalam menjaga keamanan digital Inggris. NCSC didirikan pada 2016 sebagai bagian dari Government Communications Headquarters (GCHQ), badan intelijen komunikasi Inggris, dengan mandat melindungi negara dari ancaman siber. Selama sepuluh tahun, lembaga ini berkembang menjadi pusat keahlian nasional yang mendukung pemerintah, sektor swasta, dan masyarakat dalam menghadapi risiko digital yang terus berubah.
Peringatan Raja Charles III mengenai ancaman siber dan risiko kecerdasan buatan mendapat gambaran nyata melalui insiden yang melibatkan peritel daring Asos. Kasus ini menunjukkan bahwa gangguan terhadap sistem digital perusahaan tidak hanya berpotensi menghambat layanan, tetapi juga dapat menjangkau komunikasi langsung dengan pengguna. Pusat Keamanan Siber Nasional Inggris (NCSC) menawarkan bantuan kepada Asos setelah perusahaan tersebut mengalami peretasan yang memanfaatkan sistem aplikasinya.
Dalam insiden itu, pelaku diduga menggunakan aplikasi Asos untuk mengirim notifikasi pop-up kepada pengguna. Pesan tersebut berpotensi diterima oleh jutaan orang pada Selasa, sehingga memperluas dampak serangan dari lingkungan internal perusahaan ke perangkat dan pengalaman digital pelanggan. Penggunaan aplikasi sebagai saluran penyebaran menunjukkan bagaimana platform yang dirancang untuk berinteraksi dengan konsumen dapat disalahgunakan ketika terdapat celah atau akses tanpa izin.
Asos menyatakan sedang menyelidiki aktivitas tidak sah yang melibatkan platform pihak ketiga. Perusahaan juga memperingatkan pelanggan bahwa peretas diduga memperoleh akses terhadap profil rinci jutaan pengguna. Data yang disebut dalam pemberitahuan tersebut mencakup nama, alamat, nomor telepon, alamat email, nomor pelanggan, serta tanggal lahir. Meskipun informasi itu bukan kredensial perbankan, penggabungannya dapat membantu pelaku menyusun profil korban dan melancarkan penipuan yang lebih meyakinkan.
Perkembangan berikutnya meningkatkan kekhawatiran mengenai skala insiden. Setelah Asos diberi tahu bahwa pelaku kejahatan siber mengklaim kebocoran mencakup informasi yang lebih luas daripada data kontak dasar, perusahaan perlu menilai kembali cakupan kompromi dan risiko bagi pengguna. Sebelumnya, Asos menyebut sebagian informasi dasar pelanggan mungkin telah diakses pihak yang tidak berwenang. Perbedaan temuan awal dan klaim terbaru memperlihatkan pentingnya penyelidikan menyeluruh, komunikasi terbuka, serta langkah perlindungan yang cepat. Insiden ini menegaskan bahwa keamanan digital membutuhkan pengawasan berkelanjutan, termasuk terhadap layanan pihak ketiga dan aplikasi yang menjadi penghubung utama perusahaan dan konsumen.
Perhatian Raja Charles III terhadap kecerdasan buatan tidak hanya berkaitan dengan manfaat teknologinya, tetapi juga dengan risiko apabila teknologi tersebut berada di tangan yang salah. Pada bulan sebelumnya, ia memperingatkan para eksekutif perusahaan AI mengenai potensi bahaya eksistensial yang dapat muncul dari perkembangan sistem kecerdasan buatan yang semakin canggih. Peringatan itu mencerminkan kekhawatiran bahwa kemajuan teknologi yang berlangsung cepat perlu diimbangi dengan pengawasan dan pengaturan yang memadai.
Pernyataan tersebut disampaikan ketika Charles bertemu dengan sejumlah eksekutif industri AI di Dumfries House, Ayrshire. Pertemuan itu membahas bagaimana teknologi dapat dimanfaatkan untuk memperkuat keamanan serta menghadapi berbagai tantangan pada era digital. Dalam kesempatan tersebut, Charles juga bertemu dengan CEO Nvidia Jensen Huang, salah satu tokoh penting dalam pengembangan perangkat keras dan teknologi yang mendukung sistem AI modern.
Dalam pembahasannya, Charles menyoroti kemampuan model AI canggih yang terus berkembang dan semakin luas penggunaannya. Ia menyampaikan bahwa kemampuan tersebut perlu dipahami secara serius, terutama karena sejumlah pihak di industri teknologi telah memperingatkan kemungkinan AI mengembangkan fungsi atau perilaku yang berbahaya. Risiko itu, menurut peringatan yang dikutip, bahkan dapat mencakup kemampuan yang mengancam keselamatan dan nyawa manusia apabila tidak dikendalikan dengan tepat.
Charles menyerukan agar kemungkinan risiko eksistensial tidak diperlakukan sebagai persoalan yang dapat diabaikan atau ditunda. Pengembangan dan penerapan AI, menurut pandangannya, perlu diarahkan melalui tanggung jawab yang jelas, tata kelola yang kuat, serta pertimbangan terhadap dampaknya bagi masyarakat. Ia juga menekankan pentingnya memastikan bahwa kemajuan teknologi tetap digunakan untuk kepentingan manusia, komunitas, dan alam, bukan untuk memperbesar ancaman yang dapat merugikan ketiganya.
Baca juga: Transformasi Digital Perbankan di Indonesia | Ancaman Rusia terhadap Infrastruktur Bawah Laut NATO | Ancaman Abu Vulkanik dari Gunung Lewotolok Terhadap Penerbangan

