Jakarta | Bagi pasien hemofilia, ketersediaan plasma bukan sekadar persoalan logistik atau kecukupan obat di fasilitas kesehatan. Plasma merupakan bahan dasar untuk menghasilkan konsentrat faktor pembekuan yang dibutuhkan tubuh pasien agar perdarahan dapat dihentikan atau dicegah. Ketika terapi penggantian faktor pembekuan tidak tersedia, perdarahan yang tampak ringan sekalipun dapat berkembang menjadi kondisi serius, terutama apabila terjadi pada persendian, otot, atau organ vital. Karena itu, kesinambungan pasokan plasma berkaitan langsung dengan keselamatan, kualitas hidup, dan harapan hidup pasien hemofilia.
Gambaran tersebut tercermin dalam pengalaman Yusnidar, pasien hemofilia yang telah menjalani terapi berbasis plasma sejak berusia 13 bulan. Kini, pada usia 50 tahun, ia terus hidup dengan kondisi tersebut dan menjadi saksi bahwa akses terhadap terapi yang tepat dapat menentukan perjalanan hidup seseorang. Pengalaman panjangnya juga menunjukkan bahwa hemofilia bukan hanya tantangan medis sesaat. Pasien membutuhkan perawatan berkelanjutan, pemantauan, serta ketersediaan produk terapi yang dapat diandalkan sejak masa kanak-kanak hingga dewasa.
Kisah Yusnidar disampaikan dalam International Plasma Awareness Week 2026 yang diselenggarakan PT Takeda Life Sciences bersama Kementerian Kesehatan di Jakarta pada Rabu, 7 Oktober 2026. Kegiatan itu menyoroti pentingnya pemahaman publik mengenai peran plasma dalam sistem kesehatan dan terapi penyakit tertentu. Bagi komunitas hemofilia, keterbatasan plasma berarti lebih dari sekadar kemungkinan tertundanya pasokan obat. Kondisi tersebut dapat menghambat pencegahan perdarahan, meningkatkan risiko komplikasi jangka panjang, serta mengancam keberlangsungan hidup pasien. Oleh sebab itu, penguatan pengumpulan plasma, pengelolaan yang aman, dan distribusi yang merata perlu dipandang sebagai bagian penting dari perlindungan kesehatan masyarakat.
Pengalaman Yusnidar memperlihatkan bahwa hemofilia tidak hanya menjadi persoalan kesehatan pribadi, tetapi juga meninggalkan jejak panjang dalam keluarga. Ia berasal dari keluarga yang terdiri atas dua belas bersaudara. Dari jumlah tersebut, delapan adalah laki-laki, dan enam di antaranya mengidap hemofilia. Sejak mengetahui kondisi itu, perjalanan hidup Yusnidar berlangsung bersama pengalaman menghadapi penyakit yang juga dialami oleh saudara-saudaranya.
Dari enam saudara laki-laki yang terkena hemofilia, lima telah meninggal dunia. Keadaan tersebut membuat Yusnidar menjadi satu-satunya dari enam bersaudara itu yang masih hidup. Kisah keluarganya menggambarkan dampak hemofilia yang dirasakan secara langsung, bukan hanya melalui kebutuhan pengobatan, melainkan juga melalui kehilangan anggota keluarga satu demi satu. Bagi Yusnidar, pengalaman tersebut menjadi bagian yang tidak terpisahkan dari perjalanan hidupnya sebagai penyintas hemofilia.
Dalam menjalani pengobatan, Yusnidar menggunakan obat berbasis plasma. Karena itu, ketersediaan protein pembekuan darah dalam plasma menjadi kebutuhan utama untuk membantu menghentikan pendarahan yang dialaminya. Pengobatan tersebut bergantung pada tersedianya plasma sebagai bahan penting, sehingga keberadaan pasokan plasma memiliki arti langsung bagi keberlangsungan perawatan yang ia jalani. Kebutuhan itu bukan sekadar persoalan persediaan, melainkan bagian dari upaya Yusnidar untuk tetap bertahan.
Yusnidar juga menyampaikan risiko yang dihadapi pasien ketika plasma tidak tersedia. Menurutnya, pasien hemofilia dapat berada dalam keadaan yang membahayakan karena obat yang dibutuhkan untuk membantu menghentikan pendarahan tidak dapat diberikan. Pernyataan tersebut menunjukkan betapa pentingnya ketersediaan plasma bagi pasien seperti dirinya. Pengalaman pribadi Yusnidar, termasuk kehilangan lima saudara laki-lakinya, menjadi gambaran mengenai beratnya dampak hemofilia dan kebutuhan akan pasokan plasma yang dapat diandalkan.
Persoalan keterbatasan plasma tidak hanya dirasakan oleh penyintas hemofilia. Pasien dengan imunodefisiensi primer juga menghadapi dampak langsung karena terapi mereka bergantung pada ketersediaan imunoglobulin yang berasal dari plasma manusia. Dimas Adhi Sugiharto, Ketua Perhimpunan Pasien Imunodefisiensi Primer Indonesia, mengatakan bahwa banyak pasien masih menerima dosis yang kurang dari kebutuhan. Kondisi tersebut terjadi ketika pasokan plasma terbatas, sehingga terapi harus disesuaikan dengan persediaan yang tersedia, bukan semata-mata dengan kebutuhan medis pasien. Bagi pasien, kekurangan dosis dapat membuat pengobatan tidak berjalan optimal dan perlindungan terhadap infeksi menjadi lebih sulit dipertahankan.
Pengalaman pasien tersebut berbeda dari gambaran kebutuhan pada tingkat nasional. Pengalaman pasien menunjukkan konsekuensi yang dirasakan dalam proses perawatan sehari-hari, sedangkan data nasional menggambarkan skala bahan plasma yang diperlukan untuk memenuhi kebutuhan berbagai kelompok penerima terapi. Pemisahan ini penting agar persoalan pasokan tidak dipahami hanya sebagai kasus individual, melainkan sebagai tantangan sistemik dalam penyediaan produk plasma.
Pakar kedokteran transfusi Teguh Priyono menjelaskan bahwa masih terdapat jarak kebutuhan nasional dan ketersediaan plasma di Indonesia. Dalam satu tahun, kebutuhan nasional diperkirakan mencapai sekitar 600.000 vial plasma. Namun, pasokan yang tersedia masih berada di bawah angka tersebut, dengan kekurangan yang dinilai masih sangat besar. Kesenjangan itu menunjukkan bahwa jumlah plasma yang dapat dikumpulkan, diolah, dan disalurkan belum sebanding dengan kebutuhan terapi. Karena itu, keterbatasan pasokan berpotensi memengaruhi kesinambungan pengobatan pasien imunodefisiensi primer maupun kelompok lain yang memerlukan produk berbasis plasma. Data kebutuhan nasional tersebut memperkuat kesaksian pasien, tetapi keduanya tetap menggambarkan dua sisi persoalan yang berbeda: dampak klinis di tingkat individu dan defisit pasokan pada tingkat negara.
Keterbatasan sumber daya menjadi salah satu tantangan utama pemerintah dalam menyusun regulasi mengenai produk obat derivat plasma. Pengaturan produk tersebut perlu mempertimbangkan ketersediaan bahan baku, kapasitas pendukung, serta kesiapan berbagai pihak yang terlibat. Dalam konteks ini, regulasi tidak hanya berkaitan dengan aspek teknis, tetapi juga dengan kemampuan ekosistem kesehatan untuk memastikan produk dapat diterapkan secara tepat bagi pasien yang membutuhkan.
Aswardi, Ketua Tim Kerja Kelainan Darah dan Gangguan Imunologi Kementerian Kesehatan, menyampaikan bahwa penerapan produk obat derivat plasma membutuhkan kesiapan. Kesiapan tersebut perlu berjalan seiring dengan partisipasi aktif masyarakat dalam kegiatan donor. Ketersediaan plasma sangat bergantung pada keterlibatan masyarakat, sehingga kesadaran untuk berdonor menjadi bagian penting dalam membangun sistem yang berkelanjutan. Tanpa dukungan tersebut, upaya memperkuat akses terhadap produk derivat plasma akan menghadapi tantangan yang lebih besar.
Penguatan ekosistem plasma juga membutuhkan perhatian dan kolaborasi dari berbagai pemangku kepentingan. Dimas mengajak seluruh pihak untuk memperkuat ekosistem plasma melalui kolaborasi. Ajakan ini menekankan pentingnya keterlibatan bersama dalam menghadapi kesenjangan pasokan plasma dan mendukung kebutuhan pasien dengan kondisi tertentu. Langkah tersebut perlu dilakukan dengan mempertimbangkan kesiapan sumber daya serta partisipasi masyarakat dalam donor.
Presiden Direktur PT Takeda Life Sciences, Andreas Gutknecht, menyatakan bahwa produk obat derivat plasma penting bagi pasien dengan kondisi kompleks dan mengancam jiwa. Ia juga menyampaikan komitmen perusahaan untuk bekerja sama dengan Kementerian Kesehatan dan pemangku kepentingan lain dalam mendukung prioritas kesehatan jangka panjang Indonesia. Pernyataan tersebut mempertegas perlunya kolaborasi untuk membangun ekosistem plasma yang lebih kuat, dengan tetap menempatkan kebutuhan pasien dan keberlanjutan sistem kesehatan sebagai perhatian utama.
Baca juga: Krisis Pasokan Beras Premium di Ritel Modern | Puspsi TNI Berikan Trauma Healing bagi Relawan TNI dan Persit Penyintas Gempa NTT | Puspsi TNI Bersama Kodim 1612/Manggarai dan Yonif TP 834/WM Berikan Trauma Healing kepada Penyintas Gempa
