Kondisi Kritis Bayi Alena Setelah Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

Kondisi Kritis Bayi Alena Setelah Diduga Diberi Telur Mentah, Dokter Jelaskan Risikonya

Surabaya | Bayi Alena, yang usianya belum genap satu bulan, sempat berada dalam kondisi kritis dan menjalani perawatan di RSUD Dr. Soetomo, Surabaya. Kabar mengenai kondisi bayi tersebut menjadi perhatian publik setelah informasi tentang dirinya beredar luas di media sosial. Peristiwa ini memicu keprihatinan karena Alena masih berada pada tahap usia yang sangat rentan dan membutuhkan penanganan serta pengawasan medis secara khusus.

Dalam informasi yang beredar, Alena disebut diduga diberi telur mentah oleh neneknya. Namun, keterangan tersebut masih berstatus dugaan dan belum dapat diperlakukan sebagai fakta yang telah terverifikasi. Publik perlu berhati-hati dalam memahami kabar tersebut, terutama karena informasi di media sosial dapat berisi potongan cerita, belum dilengkapi penjelasan medis, atau tidak menggambarkan keseluruhan kondisi pasien.

Hingga berita ini disampaikan, tidak tepat untuk menyatakan bahwa pemberian telur mentah secara langsung menyebabkan Alena mengalami kondisi kritis. Hubungan sebab-akibat dugaan pemberian makanan tersebut dan kondisi kesehatan bayi harus didasarkan pada pemeriksaan dokter, riwayat medis, serta informasi resmi dari pihak terkait. Penanganan di RSUD Dr. Soetomo menunjukkan bahwa kondisi Alena memerlukan perhatian serius dari tenaga kesehatan, tetapi rincian diagnosis dan penyebabnya tetap perlu menunggu penjelasan medis yang dapat dipertanggungjawabkan.

Kasus ini sekaligus mengingatkan pentingnya tidak memberikan makanan atau minuman kepada bayi tanpa mengikuti anjuran tenaga kesehatan, khususnya pada usia kurang dari satu bulan. Setiap keputusan terkait asupan bayi perlu mempertimbangkan usia, kondisi tubuh, dan kebutuhan nutrisinya. Sementara itu, masyarakat sebaiknya tidak menyebarkan kesimpulan yang belum terbukti serta menghormati privasi keluarga selama proses perawatan berlangsung.

Informasi mengenai kondisi Alena beredar setelah bayi tersebut disebut mengalami demam. Berdasarkan kronologi yang disampaikan, demam itu terjadi sebelum nenek Alena, yang merupakan ibu dari ayah bayi, memberikan telur mentah. Pemberian telur tersebut disebut dilakukan dengan alasan untuk membantu menurunkan suhu tubuh Alena. Namun, informasi yang beredar tidak menjelaskan secara rinci bagaimana telur itu diberikan maupun dasar pertimbangan di balik tindakan tersebut.

Setelah pemberian telur mentah, kondisi Alena dilaporkan memburuk. Bayi tersebut kemudian membutuhkan perawatan lebih lanjut dan dibawa untuk memperoleh penanganan medis. Alena disebut dirawat di RSUD Dr Soetomo sejak Jumat (9/10). Dalam proses perawatannya, ia sempat mendapatkan penanganan di ruang neonatal intensive care unit (NICU), yaitu unit yang diperuntukkan bagi bayi yang memerlukan pemantauan dan perawatan intensif.

Perkembangan kondisi Alena selanjutnya menjadi perhatian setelah muncul kabar bahwa keadaan bayi itu semakin serius. Informasi mengenai perawatan dan kondisi tersebut disampaikan melalui unggahan di media sosial, sehingga sejumlah detailnya masih perlu dipahami berdasarkan sumber yang dapat dipertanggungjawabkan. Kabar berikutnya menyebutkan bahwa Alena kemudian meninggal dunia.

Kabar duka itu berasal dari unggahan seseorang yang mengaku sebagai bibi Alena sekaligus saudara kandung ibu bayi tersebut. Sampai pada informasi yang beredar itu, kronologi yang dapat disusun mencakup demam yang dialami Alena, pemberian telur mentah oleh nenek dari pihak ayah, memburuknya kondisi bayi, serta perawatan di RSUD Dr Soetomo, termasuk penanganan di NICU. Tidak ada tambahan waktu kematian atau rincian medis lain yang dicantumkan dalam informasi tersebut.

Dokter spesialis anak dr Denta Satria Kurniawan, SpA, mengingatkan bahwa bayi baru lahir belum memiliki sistem tubuh yang matang untuk menerima makanan selain yang sesuai dengan kebutuhannya. Penjelasan tersebut disampaikan saat dihubungi pada Senin (12/10/2026), menyusul kondisi kritis bayi Alena yang diduga diberi telur mentah.

Menurut Denta, saluran cerna bayi masih dalam tahap perkembangan. Fungsi ginjal dan sistem kekebalan tubuhnya juga belum bekerja seoptimal orang dewasa. Selain itu, kemampuan menelan dan koordinasi mengisap, menelan, serta bernapas belum sempurna. Karena itu, pemberian pisang, bubur, telur, atau makanan lain pada bayi baru lahir dapat menimbulkan risiko serius.

Makanan yang teksturnya belum sesuai dapat membuat bayi tersedak atau masuk ke saluran napas. Kondisi tersebut berpotensi mengganggu pernapasan dan menyebabkan komplikasi. Di saluran cerna, makanan yang belum dapat ditoleransi juga bisa memicu muntah, kembung, diare, infeksi, hingga reaksi alergi. Risiko ini semakin besar apabila makanan diberikan tanpa rekomendasi dan pengawasan tenaga kesehatan.

Denta menjelaskan, pemberian makanan terlalu dini juga dapat membuat bayi lebih sedikit memperoleh ASI. Padahal, ASI dinilai lebih sesuai dengan kebutuhan bayi dan mengandung berbagai zat gizi serta antibodi yang membantu mendukung pertumbuhan dan perlindungan tubuh. Jika asupan ASI berkurang karena tergantikan makanan, bayi berisiko mengalami kekurangan gizi.

Pada bayi yang masih sangat kecil, muntah dan diare dapat berkembang cepat menjadi dehidrasi. Kehilangan cairan dalam jumlah sedikit pun dapat berdampak besar karena cadangan tubuh bayi terbatas. Apabila tidak segera ditangani, kondisi tersebut dapat memburuk dan mengancam nyawa. Oleh sebab itu, orang tua perlu memberikan asupan sesuai anjuran dokter dan segera mencari pertolongan medis ketika bayi mengalami sesak, muntah berulang, diare, lemas, atau sulit menyusu.

Telur mentah memiliki risiko kontaminasi bakteri, termasuk Salmonella. Menurut dr Denta, bakteri tersebut dapat berada di permukaan cangkang maupun masuk ke bagian dalam telur. Karena itu, telur yang belum dimasak secara sempurna perlu mendapat perhatian lebih, terutama ketika diberikan kepada bayi yang sistem kekebalan tubuhnya masih berkembang. Paparan bakteri tidak selalu dapat dikenali dari tampilan, aroma, atau rasa telur, sehingga langkah pengolahan yang aman menjadi hal penting dalam pemberian makanan.

Pada anak yang lebih besar, infeksi Salmonella umumnya dapat menimbulkan keluhan seperti diare, muntah, nyeri perut, dan demam. Namun, pada bayi baru lahir, daya tahan tubuh yang masih sangat rendah dapat membuat infeksi berkembang menjadi kondisi yang lebih berat. Bakteri dapat menyebar ke dalam aliran darah dan menyebabkan sepsis, atau memicu radang selaput otak. Tingkat keparahan infeksi dipengaruhi oleh kondisi tubuh bayi serta jumlah paparan, sehingga gejala pada bayi perlu diperhatikan secara cermat dan ditangani oleh tenaga medis.

Muntah dan diare juga dapat menyebabkan bayi kehilangan cairan dalam waktu cepat. Dehidrasi pada bayi dapat ditandai dengan berkurangnya frekuensi buang air kecil, mulut kering, bayi tampak lemas, sulit menyusu, atau tidak memberikan respons seperti biasanya. Apabila tanda-tanda tersebut muncul, pemeriksaan medis diperlukan untuk menilai kondisi bayi dan kebutuhan penanganannya. Selain risiko infeksi, telur termasuk salah satu makanan yang cukup sering memicu alergi. Reaksi alergi dapat berupa ruam, muntah, pembengkakan, hingga gangguan pernapasan. Keterangan mengenai risiko tersebut tidak secara otomatis menetapkan telur sebagai penyebab kondisi Alena, karena penentuan penyebab memerlukan penilaian dokter berdasarkan pemeriksaan dan informasi klinis yang lengkap.

Baca juga: Kondisi Terkini Erupsi Gunung Anak Krakatau dan Dampaknya di Jakarta