JAKARTA, DKI JAKARTA — Berdasarkan laporan yang diterbitkan pada 5 Oktober 2026, Feby Deru, istri Gubernur Sumatra Selatan Herman Deru, hadir dalam gelaran Kriyanusa 2026 di Jakarta. Kehadirannya menjadi bagian dari rangkaian kegiatan pameran dan peragaan yang memperkenalkan kekayaan kerajinan Nusantara kepada masyarakat. Acara tersebut berlangsung di Jakarta International Convention Center (JICC) pada 26–30 September 2026.
Dalam salah satu rangkaian acara, Feby Deru terlihat mengikuti fashion show bersama sejumlah peserta lainnya. Penampilannya di atas panggung menjadi perhatian karena memperlihatkan keterlibatannya secara langsung dalam agenda Kriyanusa. Kegiatan itu menampilkan busana dan karya berbasis kerajinan daerah, sekaligus memberikan ruang bagi para pelaku industri kreatif untuk memperkenalkan produk mereka kepada pengunjung.
Kriyanusa merupakan salah satu kegiatan yang menyoroti pengembangan kerajinan, wastra, serta produk kreatif dari berbagai wilayah Indonesia. Kehadiran tokoh publik dalam agenda tersebut turut menarik perhatian, terutama karena dapat membantu memperluas jangkauan promosi terhadap karya perajin dan desainer daerah. Feby Deru hadir dalam suasana acara yang berlangsung di tengah perhatian publik terhadap berbagai persoalan di Sumatra Selatan.
Potongan video dari kegiatan Feby Deru dalam fashion show itu kemudian beredar di media sosial. Rekaman singkat tersebut memperlihatkan suasana acara dan momen ketika ia mengikuti peragaan di panggung Kriyanusa 2026. Penyebaran video membuat kehadirannya di Jakarta menjadi bahan perbincangan warganet. Sejumlah pengguna media sosial membagikan ulang video tersebut melalui berbagai platform, sehingga informasi mengenai partisipasi Feby Deru dalam agenda Kriyanusa semakin luas diketahui.
Kehadiran tersebut menjadi salah satu sorotan dari pelaksanaan Kriyanusa 2026, yang tidak hanya berfokus pada pameran produk kerajinan, tetapi juga menghadirkan kegiatan pendukung seperti fashion show. Agenda di JICC itu mempertemukan perajin, pelaku usaha, desainer, dan masyarakat dalam satu rangkaian kegiatan yang mengangkat potensi budaya serta kreativitas dari berbagai daerah.
Keikutsertaan Feby Deru dalam ajang Kriyanusa menjadi perhatian publik karena berlangsung ketika Sumatra Selatan sedang menghadapi kepungan asap akibat kebakaran hutan dan lahan (karhutla). Situasi tersebut membuat penampilan Feby dalam acara itu dibaca dalam konteks yang lebih luas. Kehadirannya tidak hanya dilihat sebagai bagian dari agenda pameran, tetapi juga dikaitkan dengan kondisi yang tengah menjadi perhatian masyarakat di daerah tersebut.
Perhatian semakin menguat setelah video yang menampilkan Feby dalam fashion show beredar di media sosial. Rekaman tersebut memperlihatkan kehadirannya dalam rangkaian acara Kriyanusa, lalu menyebar dan memicu beragam tanggapan dari pengguna internet. Peredaran video menjadi pemicu munculnya kritik terhadap kehadiran Feby, terutama karena waktu pelaksanaan acara bertepatan dengan kondisi Sumatra Selatan yang sedang dilanda asap akibat karhutla.
Kritik yang muncul menunjukkan adanya sorotan terhadap kesesuaian kehadiran pejabat atau figur publik dalam sebuah acara ketika persoalan lingkungan sedang menjadi perhatian. Namun, konteks peristiwa perlu disampaikan secara proporsional dengan membedakan fakta keikutsertaan Feby dalam Kriyanusa, peredaran video fashion show, serta reaksi yang berkembang di media sosial. Sorotan tersebut berangkat dari video yang beredar dan situasi karhutla yang sedang berlangsung, bukan dari informasi tambahan mengenai dampak atau kondisi lain di luar bahan peristiwa. Dengan demikian, perhatian publik terhadap kehadiran Feby terutama dipicu oleh pertemuan momentum acara, rekaman yang tersebar, dan kondisi Sumatra Selatan yang sedang menghadapi kepungan asap.
Akun Threads @pembukaandokumen mengunggah kritik yang mempertanyakan empati Feby Deru terhadap kondisi warga Palembang ketika wilayah Sumatera Selatan sedang dilanda asap. Kritik tersebut menyoroti kesenjangan situasi yang dihadapi masyarakat dan kemunculan Feby Deru dalam rangkaian unggahan akun-akun profesional di bidang kecantikan serta jenama busana ternama.
Dalam unggahan itu, akun @pembukaandokumen mempertanyakan apakah kondisi warga yang kesulitan menghirup udara turut menjadi perhatian Feby Deru. Sorotan diberikan pada kemunculannya di akun-akun makeup artist dan merek busana terkenal, yang dinilai memperlihatkan suasana berbeda dari keadaan masyarakat di Palembang. Inti pernyataan tersebut adalah pertanyaan mengenai kepantasan penyelenggaraan atau kehadiran dalam acara mewah ketika warga sedang menghadapi persoalan kualitas udara.
Kritik dari akun Threads tersebut berfokus pada waktu penyelenggaraan acara, kondisi lingkungan, serta citra kemewahan yang muncul melalui publikasi di media sosial. Dengan demikian, sorotan @pembukaandokumen tidak hanya diarahkan pada kehadiran Feby Deru di Kriyanusa, tetapi juga pada pertanyaan mengenai kesesuaian penampilan dalam acara tersebut dan keadaan warga yang terdampak asap. Pernyataan itu disampaikan sebagai bentuk pertanyaan terhadap kepedulian dan empati, khususnya ketika masyarakat harus berhadapan dengan udara yang mengganggu pernapasan.
Unggahan mengenai kehadiran Feby Deru di pameran Kriyanusa memunculkan beragam tanggapan di kalangan warganet. Sebagian pengguna media sosial mempertanyakan relevansi kehadiran tersebut dengan kondisi Sumatra Selatan yang pada saat bersamaan dilanda asap. Mereka menilai, situasi itu semestinya menjadi perhatian utama para pejabat dan tokoh publik, terutama karena dampaknya dirasakan masyarakat di sejumlah wilayah. Sorotan tersebut kemudian berkembang menjadi perbincangan mengenai cara pejabat publik menampilkan aktivitasnya di ruang digital.
Di sisi lain, tidak semua tanggapan bernada kritik. Sebagian warganet memandang kehadiran Feby Deru dalam acara itu sebagai bagian dari upaya mempromosikan produk usaha mikro, kecil, dan menengah (UMKM). Pameran seperti Kriyanusa dinilai dapat membantu memperkenalkan kerajinan daerah, memperluas akses pasar bagi pelaku usaha, serta meningkatkan perhatian terhadap karya perajin lokal. Dari sudut pandang ini, kehadiran tokoh publik dianggap dapat memberikan dukungan promosi, selama tetap disertai perhatian terhadap persoalan lain yang sedang dihadapi masyarakat.
Dalam penyelenggaraan pameran tersebut, Badan Riset dan Inovasi Daerah Sumatra Selatan juga ditetapkan oleh panitia sebagai ikon pameran. Penetapan itu menunjukkan bahwa unsur daerah tidak hanya hadir sebagai peserta, tetapi turut digunakan untuk memperkuat identitas dan daya tarik kegiatan. Keterlibatan lembaga tersebut menjadi bagian dari konteks yang perlu diperhatikan ketika menilai tujuan pameran, termasuk kaitannya dengan pengenalan potensi dan produk unggulan Sumatra Selatan.
Gubernur Sumatra Selatan, Herman Deru, turut merespons sorotan yang muncul terkait kehadiran istrinya. Namun, bahan yang tersedia tidak memuat pernyataan langsung maupun penjelasan rinci mengenai isi respons tersebut. Karena itu, tanggapan publik perlu dipahami secara proporsional, tanpa menarik kesimpulan di luar informasi yang telah disampaikan. Perdebatan ini pada akhirnya memperlihatkan adanya dua perhatian yang berjalan bersamaan, yakni kepedulian terhadap kondisi asap dan dukungan terhadap agenda promosi UMKM melalui pameran.

