Jakarta | Berita tentang banjir, tanah longsor, kebakaran hutan, dan kerusakan lingkungan kini dapat muncul berulang kali di televisi, situs berita, maupun media sosial. Anak mungkin melihat gambar rumah terendam, lereng runtuh, atau hutan yang terbakar tanpa sengaja, lalu mendengar orang dewasa membicarakannya. Meski belum memahami seluruh penyebab dan skala peristiwa tersebut, mereka dapat menangkap bahwa sesuatu yang berbahaya sedang terjadi. Paparan berulang membuat topik bencana terasa dekat, bahkan ketika peristiwa itu berlangsung jauh dari tempat tinggal mereka.
Rasa ingin tahu anak sering muncul melalui pertanyaan sederhana yang menyimpan kekhawatiran. Mereka mungkin bertanya, “Apakah banjir seperti itu bisa terjadi di rumah kita?” atau “Kalau ada tanah longsor, apakah kita akan aman?” Sebagian anak juga memikirkan masa depan dengan bertanya, “Nanti bumi akan menjadi seperti apa?” Pertanyaan semacam ini bukan sekadar tanda bahwa anak ingin memperoleh fakta. Di baliknya, bisa ada kecemasan tentang keselamatan keluarga, rumah, hewan, dan lingkungan yang mereka kenal. Anak yang belum mampu mengungkapkan perasaan secara langsung mungkin menjadi lebih pendiam, sulit tidur, atau terus meminta kepastian.
Perhatian orang tua penting agar informasi yang diterima anak tidak berkembang menjadi ketakutan berlebihan. Tanpa penjelasan yang sesuai usia, potongan berita dan gambar dramatis dapat membuat anak membayangkan bahwa bencana akan segera terjadi di mana pun. Orang tua tidak perlu menunggu sampai anak menunjukkan kecemasan yang jelas. Mengamati perubahan sikap, mendengarkan pertanyaan dengan tenang, dan memberi ruang untuk membicarakan perasaan dapat membantu mengenali dampak berita tersebut. Dengan pendampingan yang peka, anak dapat memahami bahwa bencana memang perlu diperhatikan, tetapi setiap berita tidak berarti keluarga mereka sedang berada dalam bahaya. Cara orang tua merespons menjadi bagian penting dari pengalaman anak saat berhadapan dengan kabar yang menakutkan.
Menurut psikiater anak dan remaja dr. Fransiska Kaligis, Sp.KJ(K), yang akrab disapa dr. Cika, pembicaraan mengenai persoalan lingkungan perlu disesuaikan dengan usia serta kemampuan anak dalam mencerna informasi. Tidak semua anak memahami berita dengan cara yang sama; tingkat pemahaman dan kesiapan mereka dapat berbeda. Karena itu, orang tua sebaiknya mempertimbangkan apa yang sudah mampu dipahami anak sebelum menyampaikan penjelasan tentang berita bencana atau isu lingkungan. Penyesuaian ini membantu percakapan tetap dapat dipahami tanpa membebani anak dengan informasi yang belum sanggup mereka cerna.
Meski penjelasan perlu disesuaikan, orang tua tetap dianjurkan menyampaikan fakta secara jujur. Kejujuran penting agar anak memperoleh pemahaman yang sesuai mengenai persoalan yang sedang dibicarakan. Namun, menyampaikan fakta tidak berarti harus memaparkan semuanya dengan cara yang menakut-nakuti. Orang tua perlu menjaga agar penjelasan tidak menambah rasa takut atau membuat situasi terasa lebih mengancam bagi anak. Pesan dr. Cika menekankan keseimbangan: informasi tetap benar, tetapi disampaikan dengan mempertimbangkan usia dan kapasitas anak dalam menerimanya.
Dengan demikian, orang tua tidak perlu menggunakan penjelasan yang seragam untuk setiap anak. Cara anak memahami persoalan lingkungan bergantung pada usia dan kemampuannya mengolah informasi, sehingga percakapan perlu disesuaikan dengan kondisi tersebut. Dalam membicarakan berita bencana, orang tua dapat berpegang pada dua hal yang disampaikan dr. Cika: menyampaikan fakta dengan jujur dan menghindari cara penyampaian yang menakutkan. Sikap ini memberi ruang bagi anak untuk memahami informasi tanpa menerima penjelasan yang melampaui kemampuannya. Intinya, keterbukaan tetap perlu disertai pertimbangan terhadap kesiapan anak, bukan dengan menambah hal-hal yang dapat membuatnya cemas.
Ketika anak mendengar berita bencana, orang tua dapat membuka ruang diskusi alih-alih langsung mengganti topik atau meminta mereka tidak khawatir. Ajak anak bercerita tentang apa yang mereka dengar, lihat, dan rasakan. Pertanyaan sederhana seperti “Apa yang membuatmu penasaran?” membantu orang tua mengetahui informasi yang sudah diterima sekaligus bagian yang membuat anak takut. Dengarkan jawabannya dengan tenang, tanpa menghakimi atau buru-buru membantah. Sikap terbuka menunjukkan bahwa anak boleh bertanya dan menyampaikan kecemasan, serta tidak harus memendam kebingungan sendirian.
Pembicaraan mengenai isu lingkungan dapat terasa mudah sekaligus menantang, bergantung pada usia dan kemampuan anak dalam memahami informasi. Seperti dijelaskan dr. Cika, orang tua perlu menyesuaikan cara menyampaikan persoalan dengan tahap perkembangan anak. Anak yang lebih kecil mungkin membutuhkan penjelasan singkat dan konkret, sedangkan anak yang lebih besar dapat diajak memahami penyebab atau dampak suatu bencana dengan lebih terperinci. Karena itu, orang tua tidak perlu menyampaikan semua hal sekaligus. Perhatikan reaksi anak dan berhenti sejenak bila ia tampak kewalahan; percakapan dapat dilanjutkan ketika ia siap.
Jawablah pertanyaan secara jujur dengan bahasa yang sesuai, termasuk ketika orang tua belum mengetahui jawabannya. Katakan bahwa informasi tersebut akan dicari bersama, lalu pilih sumber tepercaya untuk menghindari kabar keliru yang dapat menambah kecemasan. Hindari detail yang tidak diperlukan, terutama gambaran mengerikan yang mungkin sulit dipahami anak. Setelah menjelaskan, tanyakan kembali apa yang ia pahami dan apakah masih ada hal yang ingin ditanyakan. Orang tua juga dapat mengarahkan pembicaraan pada langkah-langkah yang bisa dilakukan, seperti mengikuti arahan keselamatan atau membantu sesama sesuai kemampuan. Dengan diskusi yang hangat dan berulang, anak memperoleh kesempatan memahami situasi secara bertahap, merasa didengar, dan mengetahui bahwa ia dapat kembali berbicara saat kekhawatirannya muncul.
Pandangan dr. Cika mengenai cara orang tua merespons kecemasan anak saat menyimak berita bencana disampaikan dalam sebuah ruang diskusi tentang buku anak dan perubahan sosial. Konteks ini penting: pembicaraan tidak berdiri sebagai petunjuk pengasuhan yang terpisah, melainkan hadir dalam percakapan yang lebih luas mengenai bagaimana anak memahami lingkungan dan berbagai peristiwa di sekitarnya. Berita bencana dapat terasa berat bagi anak, sehingga cara orang dewasa menjelaskan dan menemani mereka menjadi perhatian yang relevan dalam pembahasan tersebut.
Sesi itu bertajuk “Dari Buku ke Perubahan: Buku Anak, Ecocritical Literacy, dan Aksi Bersama”. Kegiatan tersebut digelar Rintik Publishing (PT GTS Literanesia Adabi) di panggung Children Book Festival, Indonesia International Book Fair (IIBF) 2026, dan berlangsung “belum lama ini”. Informasi yang tersedia tidak mencantumkan tanggal maupun rincian acara lainnya, sehingga konteks pernyataan dr. Cika dapat ditempatkan secara tepat tanpa menambahkan detail yang tidak disebutkan.
Judul diskusi menunjukkan perhatian pada keterhubungan bacaan anak, pemahaman kritis tentang lingkungan, dan tindakan bersama. Dalam bingkai itu, pembicaraan mengenai berita bencana juga dapat dipahami sebagai bagian dari usaha mendampingi anak menghadapi isu lingkungan dan kejadian yang memengaruhi kehidupan mereka. Buku anak dapat menjadi salah satu pintu untuk membuka percakapan, sementara respons orang tua membantu anak mengolah informasi sesuai usia dan perasaannya. Keterkaitan tersebut memberikan latar bagi pandangan dr. Cika, tanpa mengubah fokus utamanya pada dukungan orang tua ketika anak merasa cemas.
Dengan demikian, pembaca dapat melihat pernyataan dr. Cika sebagai bagian dari dialog publik yang mempertemukan pengasuhan, literasi anak, dan kepedulian terhadap lingkungan. Konteks acara ini bukan alasan untuk menganggap bahwa semua pembahasan berisi arahan praktis yang sama, ataupun bahwa setiap gagasan dalam sesi tersebut secara khusus membahas kecemasan akibat berita bencana. Namun, tema buku anak, ecocritical literacy, dan aksi bersama membuat isu tentang cara anak menerima informasi terasa selaras dengan ruang diskusinya.
Baca juga: Dampak Penghijauan Lingkungan dalam Mencegah Bencana | Wujudkan Desa Tangguh Bencana , Koramil Kraksaan Ambil Bagian Dalam Proses Dan Pembentukannya







